Pada postingan kali ini, aku ingin menceritakan tahap-tahap
pun cobaan yang kami tempuh dalam pembuatan film kelas.
Banyak suka dan duka, itu sudah pasti.
Hari yang berkesan itu, 11 Desember 2011, 09:01 PM, tentang sebuah kisah yang kuyakin sangat membekas di
hati para Fospasterz. Walau tak semua penghuni istana hijau itu ikut ambil
andil pada kejadian beberapa waktu lalu, tulisan ini tetap aku dedikasikan
kepada kalian.
Malam Minggu itu, Ijek mengesemesku untuk datang ke rumahnya.
Dia mengajak rapat mengenai beberapa perubahan sekenario, karena suatu hal, aku
tidak bisa datang. So, yang rapat Ijek, Yuda, dkk.
Rupanya, keputusan rapat menghasilkan akan ada pengambilan
adegan Minggu paginya di rumah Yuda. Mereka mengabarkanku atas hal itu.
Tersebab adegan yang akan kami ambil tidak membutuhkan banyak tenaga, maka
hanya kami berlimalah yang ambil bagian dalam syuting kali itu. Yuda, Chigo,
Ijek, Niar, dan aku.
Sudah pukul 09:00 pagi lebih, hujan tak kunjung reda.
Sesekali reda, namun hujan lagi.. kuputuskan tetap datang ketika rintik. Ku
jemput Niar yang nyatanya sedang mengepel. Kami berangkat seusai Niar mandi.
:p
:p
Well, Bermis 2 dan Sawing itu tidak berjarak terlalu jauh.
Dengan Vavaririyoyo, motorku, hanya membutuhkan waktu 5 menitan. Walau begitu,
untuk curah hujan memang sangat berbeda. Di Bermis rintik, di Sawing lebattt.. kuyuupp…
[=.=”]
Mereka sedang syuting, di tingkat 2. Rumah Yuda masih dalam
tahap pembangunan. Ada banyak kamar disana, kamar kos-kosan. Rumah itu
tampaknya akan sampai tingkat tiga, aku sempat berkeliling-liling disana,
iseng. Sebagian besar tembok di tingkat 2 hingga tiga masih diplester.
Dasar Yuda dan Chigo! Sejak adegan pertama syuting, mereka tertawa
terus.. ==”
Teringat ketika mulai awal syuting di sekolah, benar-benar menggila!! Selalu ada hal yang mereka tertawakan, mereka saling tatap ajja uda ngakak! Terus, suara ngakaknya itu lho.. yang bikin siapa ajja yang dengar pasti ikutan ngakak. Udah gitu, lama banget lagi ketawanya.. ckck, handycam sampe lowbet.
Pun demikian pagi tadi. Adegan belajar di rumah Yuda ga jadi
langsung bungkus. Untuk take belajar,
gedor pintu, dan “mencegah” pun harus diulang beberapa kali. Ketawanya itu
lhoo.. ga nahan! Padahal ceritanya ga lucu banget.. condong ke haru.. ==”
Tia, adeknya Yuda juga disana. Dia yang mengambilkan alas
bedak (untuk efek wajah pucat), amplop untuk surat keterangan sakit dari rumah
sakit –yang ternyata bertuliskan ‘sumbangan hari Jum’at’ dengan font BESAR, yang
tak henti membuat kami terbahak juga–, pun biscuit dan es sirop. Eh, yang biscuit
dan sirop itu aku ragu Tia yang bawa, maksudnya, mungkin yang bawa itu
bibinya.. wkwk, aku ngga lagi di TKP soalnya.
Syuting itu semacam nutrisi penjernih untuk otakku. Bersama
mereka, terlebih ketika tertawa adalah favoritku. Selalu saja ada celah
‘menggila’ ditiap take yang membuat
handycam lowbet.
Aku harus pulang jam 01:00 siang itu. Ada les kimia. Maka,
aku dan Niar meninggalkan mereka. Aku masih ingat seruku pada mereka,
“aku duluan yaa, tetep semangat wee!”
“ok, yoo hati-hati” seru Yuda.
“ok, yoo hati-hati” seru Yuda.
Aku sampai di rumah. Sms Ida datang menyatakan les libur.
Astaga.. maka aku langsung tidur siang.
-_-
Saat itu, benar-benar tak terpikir olehku tentang apa yang
terjadi di tempat lain. Aku hanya terbayang bayang tangga-tangga di rumah Yuda
yang terjal dan lumayan sempit. Huhu.. aku suka ketinggian..
Sore, aku bangun. Mati lampu. Hapeku bergetar..
(berikut adalah sms yang tidak kuubah bentuk penulisannya –copas sms Backup–)
“YaALLAH .BNTUlah kmi ya Allah, ,yuda kstrum pas kmi syuting, , :’( :( tman d0akan yuda teman. ,, :(“ [dari chigo]
“Astaaggaa..!!!? “Y allaaahh…. Wee!! ksiiAaannd Yudaa… Demi ngbuad film, dy jatuuh dri atas rumahhx….!” [dari Abang]
Aku langsung terperanjat membaca sms-sms itu. Rasanya tidak
percaya. Suara tawa mereka masih terngiang. Ku tanyakan kebenaran sms itu.
Chigo benar-benar terpukul. Kejadian itu berlangsung di dekatnya. Kata Abang,
Sawing ricuh. Ku sebar langsung sms itu ke Fospasterz. Respon mereka pun
beragam..
“Astgfrullh Dmna skrng posisi klian? Gmna keadaanx?” [dari Prase]
“D rumaahhx! Mngkn dy skrg d rumahh skiidd,,, ya allaaaahh ngerriii !! Sumppaahh! Ricuuh sawiing ni !? Garaa2 stlhx smpee ancuur kilometer rumaahx...” [dari Abang]
“YaAllah, ,d0akan yuda ,ksi tw tmen2. ,d0akn yuda. , :(“ [dari Chigo]
“We g mNa keaDaAnx,?;-( ya alLoh . . . . .” [dari Awan]
“Ya Allah... Smoga dy cpet smbuh,, Bsok hr trakhr smster, dong ndk dy msuk..” [dari Diana]
“Pantesan mati lampu kos Q ikt... Trxta anak fospast bkin selong gempar ni., astageeeeee...” [dari Olid]
“Kshtw yg laen, Nnti hbis magrb sya jmput, kita ksana..” [dari Prase]
“innaLiLLah, yaALLAH, kok bisaa, om duda?? moga ngga kenapa-kenapa.. :(“ [dari Intan]
“Astaga, , ,ndk dia pha" khe.” [dari vivit]
“Y, d rummaaahh skiid...Bayangkn smpe saat ini dy bluum2 sadaaarr d rumah skiid, keadaaNx bner2 p, kta bxk org c, akibt jatuh dri ktnggiaaN+strUumm.... yg mngerikn, smpe kluarr busa dri muLuuutttx!” [dari Abang]
“Ya allah... Mngerikaaan... Smoga cpet smbuh yuda..” [dari Diana]
“Alhamdulillah yaAllah, ,yuda mash bsa d slmat kan. ,alHamdulillah ya Allah, ,” [dari Chigo]
“Bnrn ke ni?” [dari Yogi]
“Kshtw yg laen... Skrng hbs mgrb kta krumh skit lngsung :(“ [dari Prase]
“We,siapapun,tloNg jmpt aq,toloOng. . .” [dari Awan]
“Astagfirullaaah yudaa :'( yaaAllah :'( sumpaH kagett . Saiia baruu tau :'(“ [dari Iin]
“Kalian dmana, yuda mw d bwa k mtarm, ,,cptn. ,” [dari Chigo]
“Maaf semuax mungkn q ndak bs dtang. Tp q kan doakan Yuda semoga ndak parah.” [dari Arini]
“Sya n cani lngsung kloksi ne Lngsung ke ugd” [dari Prase]
“bukan skenario keh ini, beneran keh ini, :( :(“ [dari Sarit]
“Wee belum q percaya ma berita tu, kasi q penjelasan biar q bsa percaya” [dari Unik]
“Maaf knda gk qu bsa dtg , lg qu d aikmel soalnya .. Maaf bgd” [dari Mira]
Banyak banget sms yang ga bisa aku post dulu, isi inboxku
sampe 98, telpon beberapa kali, sampe batre yang semula 4 jadi tinggal sebiji.
Singkat kata, usai magrib kami langsung ke UGD. Aku bersama
Ria Datul, kami bingung. Ada apa ramai-ramai di depan UGD waktu itu? Ada mobil
Ambulance.. apa memang seserius itu?? L
Kulihat Pipit, Prase, Kanikani, Chigo, Rina –bersama
kakaknya– berada di tengah kerumunan. Aku dan Rei segera menghampiri. Dan
betapa terkejutnya kami, dari sebegitu ramai khalayak berkerumun, Yuda adalah
pusatnya. Ia berada di dalam mobil Ambulance. Benar saja, ia akan dirujuk ke
Rumah Sakit Umum Mataram.
Kami sempat sesekali menengok ke dalam Ambulance, disana
terdapat Yuda yang terbaring lemah bersama keluarga yang mengelilinginya.
Ia sadar kami datang, tapi tak kuasa menahan perih.
Sungguh, kakiku bergetar melihat kondisinya. Prihatin.
Yang kulihat waktu itu hanyalah bagian kakinya. Kuku kakinya
memutih dan terangkat. Telapak kaki keatas luka bakar hebat. Memerah,
terkelupas. Seperti plastik.. T_T
Aromanya lain.. seperti hangus.. Huuft
Kami benar-benar tak menyangka hal ini bisa terjadi. Tuhan
selalu punya rencana untuk hamba-hambanya. Yakinkan itu yang terbaik. Hikmah
selalu ada di sela duka.
Tak lama kemudian, Ambulance berangkat. Ia menuju Rumah
Sakit Umum Mataram. Kami memutuskan untuk berkumpul di PMI yang tepat berdiri
diseberang jalan.
Barulah beberapa Fospasterez datang. Yogi, Pakde, Awan
–bersama Ayu, pacarnya–, Ici, Alul, dst dst..
“inee tetu ini? Paranku kalian ejek.. lasingan pede ceket
kalian ekting” kata Yogi [artinya: jadi ini beneran? Aku piker kalian bohong..
habisnya, kalian pinter acting sih].
Well, Yuda emang terkenal tukang bohong di kelas.. haha
korbannya uda berceceran. Nah, giliran gini kan repot dia.. ckck
korbannya uda berceceran. Nah, giliran gini kan repot dia.. ckck
Aku masih ingat cerita Chigo.. ah, dia masih sempat ajja
ngelawak,
“paranku sei je’i nelpon eku beru’, nangis.. lembut epe
suarene.. eee Awan ternyate, paranku Niar. Lasingan pasku ketoan, ‘siapa ini?’
sambil nangis ie bejawab.. ‘kurni ini..’ hahaha.. paranku Kirayama ongkat ne”
[aku pikir siapa yang meneleponku tadi, sambil nangis.. suaranya lembut banget.
Ternyata Awan. Habisnya waktu aku Tanya, ‘siapa ini?’ sambil nangis dia
menjawab.. ‘kurni ini’… hahaha.. kupikir dia bilang Kirayama]. Seketika kami
tertawa.. dialog itu diulang-ulang terus oleh Chigo, apalagi gaya bercerita
Chigo yang baru narik nafas ajja uda bisa bikin kita ngikik.. weleh-weleh..
sempat-sempatnya..
Well, nama lengkap Awan itu Rohman Kurniawan. Sedang nama
kerennya Niar itu Kirayama Febriant (bisa cari di fb, haha).
Kami putar haluan menuju rumah Yuda di Sawing. Disana sepi.
Terlihat di depan rumahnya serakan bata yang kami duga turut terjun bersama
Yuda. Abang datang, dengan baju koko. Rumahnya memang dekat sana. Hanya ada
beberapa pria di toko sebelah rumah Yuda, kami menjawab ‘iya’ ketika mereka
bertanya, ‘adek-adek ini temannya Yuda ya?’
Haris alias Keylis juga datang, dia ricuh menceritakan
kronologisnya melalui telepon entah ke pada siapa di seberang teleponnya. Kami
ramai.
Lalu sebuah mobil datang. Ku lihat Tia, adik Yuda, turun ia
dengan tampang lemas. Ku hampiri. Aku memang sempat dekat dengannya. Dia
sahabat adikku, Nini. Dia sering datang ke rumah sejak SD. Baru aku ingin
menyapanya perihal Yuda. Dia malah menangis..
T_T
T_T
Well, aku memang paling tidak bisa menenangkan seseorang
yang sedang menangis. Hanya bisa mendengar isaknya, dan berujar, “sabar..”
“kasian kakakku.. dia sama mama bapak ke mataram..” ia mulai
berbicara.
“terus Tia mau kemana?” Tanyaku. Ah, pertanyaan apa ini? ==”
“ke Labuan.. sama paman” jawabnya. Lalu ia masuk mengambil seragam sekolah. Saat keluar lagi, kupinta nomernya, pun orang tuanya. Dan berlalulah dia..
“terus Tia mau kemana?” Tanyaku. Ah, pertanyaan apa ini? ==”
“ke Labuan.. sama paman” jawabnya. Lalu ia masuk mengambil seragam sekolah. Saat keluar lagi, kupinta nomernya, pun orang tuanya. Dan berlalulah dia..
Dia bisa mengerti. Ah, anak sekecil itu..
Prase mengajak kami ke rumah Bu Emi. Wali kelas kami yang
bijak itu. Walau langkah itu sempat tercegat oleh seorang bapak-bapak yang
terduga wartawan oleh kami, Chigo, ia lagi-lagi diwawancara.
Bu Emi memihak kami. Prase berkata sengaja datang terlebih
awal agar ibu guru tahu cerita sebenarnya tanpa bumbu. Beliau menghubungi nomer
orang tua Yuda. Ternyata nomer yang tadi diberikan padaku adalah nomer yang
tidak bisa terhubung dengan orang tua Yuda. Kami meminta lagi pada Tia. Lalu
Ibu guru menelepon, ternyata pamannya Yuda.. ==” wew
yaa, intinya, ibu guru mengabarkan bahwa kami akan menjenguk Yuda ke Rumah Sakit Umum Mataram esok usai ujian terakhir. Setelahnya, kami pulang.. walau merasa entah esok bisa atau tidak dalam menjawab soal, hadapi sajalah..

Astagfirullah.,.,
BalasHapusSabar yud,,, smua da hikmahnya,..,,.
amin.. senpai
BalasHapus:)
hikmahnya, kita jadi makin kompak..
alhamdulillah..