Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh
<3
<3
Selamat ulang tanggal dan bulan, Mamaku
sayang..
Berhubung Fin tidak sedang di rumah,
Fin hanya bisa kasi kado ini buat Mama. Bukan sesuatu yang bisa Mama
gunakan ataupun makan seperti kado sebelum-sebelumnya, pun bukan
selembar puisi yang selalu Mama temukan di samping tempat tidur pada
tanggal 20 September.
Ini adalah surat.
Eh, bukan surat juga sih. Yaa.. apa ya
sebutannya untuk beberapa susunan kalimat berisi curahan hati seorang
putri untuk Mamanya yang tengah berulang tanggal dan bulan yang
ke-42?
Baiklah, ini agak klasik. Tapi, tentu
tak ada istilah klasik untuk cinta seorang anak kepada Mama
tercintanya, kan?
Terimakasih ya, Ma..
Telah merawat dan memelihara Fin
menjadi sekeren ini. Fin sangat mensyukuri apapun yang telah Mama
beri. Terimakasih telah mengkhawatirkan Fifin. Terimakasih telah
membanggakan Fin, walau Fin rasa belum melakukannya secara total—Fin tahu Mama selalu bangga. Terimakasih atas dukungan dan semangat
dari Mama selama ini. Terimakasih telah mendoakan Fin dalam tiap
sujud Mama—menjadikan Fin terlindung setiap waktu. Terimakasih
telah menyayangi Fin melebihi Mama menyayangi diri Mama sendiri.. Fin
ingat benar. Saat Mama persiapkan semua yang Fin butuhkan menjelang
merantau sejauh ini. Fin membawa semua macam obat—yang bahkan Fin
sendiri belum meminumnya hingga sekarang. Membawa sambal teri dan
abon buatan Mama, yang Mama khawatirkan jikalau suatu waktu Fin
kelaparan, ada makanan yang siap untuk dimakan. Mama bahkan
menyisipkan beras dalam kardus itu. Padahal di sini ada yang jual
beras, banyak malah. Ehehe.Tapi Mama tetap melakukannya. Melakukan
banyak hal sebisa Mama. Agar Fin tetap baik-baik saja. Fin ingat,
waktu itu Mama memarahi Nini dan Omen memakan abon yang Mama buat itu
banyak-banyak. Itu untuk kakak bawa, kata Mama. Mama hanya terdiam
beberapa waktu, entah memikirkan apa. Fin memperhatikan. Dan ketika
keberangkatan Fin pun, Mama hanya diam, tersenyum.
Maafkan anak Mama ini yang tidak tahu
kehadiran bulir air mata Mama ketika membalikkan badan. Fin tak bisa
bayangkan pilu Mama, di hari itu. Padahal sebelumnya, Mama terus
tersenyum dan memberikan Fin nasihat.
Sekarang Fin benar-benar jauh dari
rumah, Ma. Tak ada yang memasak di tiap pagi dan petang. Tak ada yang
mengomel. Tak ada diri Mama. Fin harus lakukan itu semua sendiri.
Secara tidak langsung, Fin menjadi memahami apa yang selalu Mama
lakukan. Mengatur ini dan itu, dan itu semua kini harus Fin lakukan
sendiri.
Di sini, Fin baik-baik saja, Ma. Fin
bagun pagi dan mandi. Fin makan dan tetap sholat juga mengaji. Fin
sehat, Fin tidak bersedih. Fin hanya rindu, pada suasana rumah,
terutama di malam hari. Bertengkar dengan Nini hingga rambut rontok
pun kepala benjol-benjol karena saling jambak. Bercanda dengan bapak.
Menonton OVJ dan tertawa bersama. Menggoreng kentang dan sossis.
Mendengar Mama meminta menjemur pakaian berkali-kali tiap hari,
mencuci piring, hingga mengisi air dalam botol di kulkas. Terkadang,
Fin sangat rindu rumah, kamar Fin yang kamar mandinya selalu menjadi
bahan omelan Fin atas Omen yang menggantung baju sembarangan. Pun
saat Mama asyik bermain facebook di ruang tamu, lalu menyuruh
kami—anak-anak Mama, mengupload foto Mama di sana.
Banyak hal yang ingin terus Fin ingat.
Ma, di usia Mama yang ke-42 ini, Fin
doakan agar Mama sehat selalu. Murah rizky. Awet muda. Panjang umur
dan barokah. Dan senantiasa dalam lindungan Allah Subhana
huwata'allaa.
aamiin
Putri tangguh Mama sedang berjuang, Ma.
Doakan Fin, agar diberi kesempatan oleh Allah membahagiakan kalian
menjadi orang sukses.
Baik-baik di sana ya, Ma.
Mohon doa Mama selalu.
Anak Mama yang paling keren
Zulfin Hariani
NB:
tulisan ini Fin buat usai kuliah di
jadwal malam. Nini dan Bapak mengesemes juga menelepon beberapa waktu
yang lalu, dikiranya Fin lupa. Haha
moga suka :D
wassalam
Komentar
Posting Komentar