“Kamu gak makan
siang dulu, Dhis??”
“Udah nggak
keburu, Ma! Ntar di Melody aja! Aku
kebablasan tidur siangnyaaa, Mama sih nggak bangunin!”
“Lha, habisnya
kamu nyenyak banget tidurnya! Yaudah hati-hati kalo gitu, Dhis.. pelan-pel..” Pletakk!
Kakiku membentur kaki meja. Taplak hijau pupus di atasnya bergeser ke arah
berlawanan. Nyeri.
“Aw.. aduuh! Aduuh!
aku berangkat, Ma! Assalaamualaikum.” Sambil menyelempangkan tas kain berisi
beberapa benda kesayanganku di sebelah kanan bahu, aku terus berlari. Agak
terpincang. Tak hiraukan pintu utama yang ternganga menghadap taman kecil
bebatuan dekat garasi. Seharusnya aku menutup pintu kayu jati itu. Mama pasti
mengomel lama sekali karenanya.
Namaku Sukma
Gendhis Trisleo. Benar, zodiakku adalah leo. Orang-orang memanggilku Gendhis.
Itu terdengar bagus. Minggu lalu aku genap 19 tahun. Aku bekerja paruh waktu
pada sebuah cafe yang cukup besar
untuk memberikan kami seragam dan bandana ungu ketika bekerja.
Hari ini Ahad,
tiap pagi di hari yang sama selalu aku manfaatkan dengan mengerjakan tugas
kampus satu minggu ke depan. Tugas kali ini cukup padat. Cukup sukses membuat
tidur siangku sepulas Putri Salju. Oke, itu amunisi yang kupikir cukup bagus
juga sih, karena malam ini kebijakan
baru tempat bekerjaku diberlakukan. Melody akan tutup hingga pukul 11:00 PM.
Itu artinya, aku harus bertahan 1 jam
lebih lama dari hari-hari sibuk sebelumnya dengan mencatat tiap pesanan
pengunjung.
“Taxi, taxi!” Kuangkat
tanganku coba menghentikan salah satu dari mereka yang berlalu-lalang. Tak
berhasil. Ada apa dengan taxi-taxi hari ini?? Mengapa begitu tak acuh? Sial.
Aku sudah
terlambat. 17 menit yang lalu seharusnya aku sudah mengenakan seragam ungu
berlogo ‘Melody’ di depannya dengan senyum termanis yang aku punya. Hari ini
cerah, suasana yang cukup mendukung untuk pengunjung berkunjung mencoba jus
jagung ala Melody. Dan, aku tidak boleh terlambat lebih jauh.
Kucoba menyetop
mini bus. Dan masih tak dipedulikan. Ah, ini tak boleh dibiarkan! Bisa-bisa
citra yang kucoba jaga selama dua minggu ini sirna sebagai pelayan terpuji.
Tidak boleh! Tidak boleh!! Siapa saja, beri aku tumpangan!!
Sedan putih
melaju lambat di seberangku. Kucoba mengejar, berteriak, meminta tumpangan pada
si pengemudi. Namun ia tetap melaju. Ah, si sibuk itu..
Kemudian mobil
kijang biru melintas di depanku. Aku langsung maju. Berdiri tegap di tengah
jalan sejajar zebra cross. Mencoba
menghadang. Kulihat seorang wanita tua duduk di bagian belakang. Oh,
transportasi umum nampaknya. Aku selamat!
***
“Nathan,
antarkan nenekmu pulang..” Pinta seorang laki-laki yang resmi menjadi ayah
tiriku sebulan ini. Aku tak terlalu akrab dengannya. Aku merasa dia tak pernah
memperhatikan aku. Ini sama saja, berayah namun tak berayah.
“Yaa..” Jawabku
singkat. Nenek yang dimaksud adalah ibu dari Ayah tiriku ini. Beliau jarang
berbicara. Sesekali datang ke rumah hanya untuk makan, tidur, kemudian pulang.
Kunyalakan
kijang biru dalam garasi. Nenek duduk di belakang. Ini akan menjadi perjalanan
yang membosankan lagi. Perjalanan 2 jam yang hanya diisi dengan diam.
***
Seorang gadis
menghadang mobilku. Ia tampak sangat tergesa-gesa. Langsung masuk begitu saja.
Duduk di samping nenek.
“Ke Resto Melody
yaa, Mas.. kalo bisa ngebut. Aku sudah telat!” Serunya. Sepertinya ia salah
paham. Dia pasti berpikir ini mobil angkutan umum. Oke, memang terlihat sama
sih sekilas, tapi apa dia tak melihat plat kendaraanku berwarna hitam?? Bukan
kuning!
Maka kuantar dia
sampai Resto Melody. Aku pernah ke sana. Capuccino dan nasi goreng seafoodnya
memang lezat. Jadi, dia bekerja di sini?
“Makasih, Mas..
ini bayarnya. Kembaliannya buat Mas aja..” Kemudian gadis itu menerobos keluar.
Selembar Sultan Mahmud Badaruddin II ia berikan padaku. Aku hanya bisa
melonggo. Gadis yang aneh.
***
“Bos mana, Ca?”
Aku terburu mengenakan bandana ungu lalu mengikatnya ke belakang bawah
kepangku. Bergegas depan meja kasir yang dalam kendali Uca.
“Bos belum
datang, kamu selamat!” Jawabnya, pandangan lensa cokelat Uca tak lepas
dari monitor di depannya. Syukurlah, aku
tahu Tuhan sangat menyayangiku.
Resto cukup
ramai. Membuatku langsung bekerja tanpa jeda usai beribadah menjelang petang.
Terimakasih, hari yang terik. Terobosan baru jus jagung gagasanku mendapat
respon yang menyenangkan.
“Dhis, di meja 12 tuh..” Uca memberikan
isyarat mata. Aku mengerti. Ku bawa buku menu beserta notenya untuk mencatat
pesanan pemuda berjaket hijau di meja bernomor 12 sana.
“Capuccino dan
nasi goreng seafoodnya ada ngga, Mbak?” Ia mengajukan pertanyaan itu ketika
buku menu kusodorkan. Bahkan ia tidak mencoba untuk membukanya.
“Eh, ada.. Ada
kok, Mas.. pesan itu?” Kubalas dengan senyum manis, ya, kami dituntut untuk
selalu tersenyum pada pelanggan.
“Iya” Jawabnya
singkat.
“Ada lagi?” Tanyaku
basa-basi. Ya, kami memang dituntut untuk bertanya demikian pula pada
pelanggan, walau sebenarnya kami telah tahu bahwa yang ingin mereka pesan hanya
itu.
“Itu saja,
Mbak.. mungkin nanti aku akan memesan lagi. Aku lagi menunggu seseorang” Balasnya
tenang.
“Baiklah,
capuccino dan nasi goreng seafood akan segera datang. Permisi”
***
Kuputuskan
langsung ke Resto Melody usai mengantar nenek. Aku duduk di meja nomor 12.
Posisi yang strategis dekat pintu yang terdapat cermin mengelilingi pahatan
rotan sebagai pembatasnya dengan dinding. Aku bisa melihat pantulan bayangan
meja kasir dari sini. Ada nona yang salah paham padaku sore tadi di sana.
Sedang berbincang. Tak lama kemudian, kudapati bayangannya mendekat dari
cermin.
Ia membawa
sebuah buku tebal, kurasa itu buku menu. Juga ia membawa note ungu kecil, pasti
itu akan ia gunakan untuk mencatat pesananku. Aku pernah ke sini, dan setahuku
makanan yang tersedia kebanyakan bercita rasa manis. Aku hanya tertarik pada
capuccino dan nasi goreng seafoodnya.
“Capuccino dan
nasi goreng seafoodnya ada ngga, Mbak?”
Basa-basi, walau aku tahu menu itu pasti ada. Nona itu tampak sedikit
terkejut. Mungkin karena aku tak menyambut buku menu yang ia sodorkan. Atau
mungkin juga karena melihat supir yang mengantarnya ke mari kini sebagai
pembeli.
“Eh, ada.. Ada
kok, Mas.. pesan itu?” Ia balas dengan senyum manis. Kupikir, para pelayan
resto ini memang suka tersenyum pada tiap pelanggannya. Tidak buruk.
“Iya” Jawabku
singkat. Masih memperhatikan dia.
“Ada lagi?” Tanyanya.
Mungkin itu basa-basi. Karena ku pikir pesananku sudah cukup jelas.
“Itu saja, Mbak.. mungkin nanti aku akan
memesan lagi. Aku lagi menunggu seseorang” Balasku tenang. Aku berbohong. Tentu
tak ada yang tengah aku tunggu. Aku malas di rumah, toh mereka tak akan
mencariku.
“Baiklah,
capuccino dan nasi goreng seafood akan segera datang. Permisi”
Dia tidak
mengenaliku. Haha. Terlalu banyak wajah yang ia temukan setiap hari. Pasti
begitu.
***
Hari ini
nampaknya ada seorang pelanggan kami yang telah berulang tanggal dan bulan. Itu
mengapa resto menjadi sangat ramai. Menyenangkan
karena aku merasa telah membayar keterlambatanku tadi dengan bekerja keras. Aku
lega. Sedang kini, waktu telah menunjukkan pukul 10:30 PM. Setengah jam lagi
resto kami akan tutup. Tersisa 5 orang pelanggan di dalam ruangan. 4 orang
dengan gerombolannya, sedang pemuda berjaket hijau tadi masih sendiri di meja
nomor 12 sana. Nampaknya, seseorang yang tengah ia tunggu belum kunjung datang.
Meja pada nomor itu memang strategis untuk menunggu seseorang, tersebab
letaknya tepat di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke luar resto
kami. Sesekali ia menatap ke jendela, ku temukan bayangan wajahnya memantul
dari kaca tebal itu. Kemudian ia kembali memainkan sedotan pada segelas
capuccinonya yang telah kosong.
“Dhis..” Uca
menyenggol bahu kananku. Aku tahu, 10 menit lagi kami harus tutup. Namun pemuda
berjaket hijau tadi masih saja tak beranjak dari kursi anyaman rotan cokelat di
sana. Ku putuskan menghampirinya.
“Maaf, Mas..
kami tutup 10 menit lagi” Ujarku padanya. Semoga dia mengerti.
“Lha, kok cepat
sekali? Seseorang yang kutunggu belum datang lho, Mbak. Tunggu sebentar lagi
lah yaa” Sergahnya. Wajahnya memelas.
“Maaf, Mas..
tidak bisa. Itu sudah ketentuan di sini. Mas boleh nunggu di sini sampai jam 11
saja. Selanjutnya bisa di tempat lain..”
“Tunggu sebentar
lagilah, Mbak. Kami janjinya bertemu di sini. Please..”
“Maaf, Mas..
tidak bisa. Mas bisa datang lagi besok jika memang ingin menunggu di sini”
Dia terdiam.
Lalu bangkit dari kursinya. Melihatku sebentar. Kemudian menuju meja kasir.
“Baiklah, aku
akan datang lagi besok” ujarnya padaku sebelum keluar.
“Terimakasih
atas kunjungannya”
Eh, apa aku
pernah bertemu dia sebelumnya?
***
Dia bekerja
sangat lincah dan bersemangat. Hari itu cukup ramai. Ada segerombolan remaja
berisik membawa kue tart dan bernyanyi tak jauh dari mejaku.
Kuseruput
capuccino langsung dari bibir gelas. Aku suka sensasi busanya yang menyentuh
bibirku. Lembut. Kemudian sesekali memainkan sedotannya. Resto ini terasa
nyaman. Aku mulai suka melihat senyum nona berbando ungu itu.
Ia pulang pukul
berapa ya? Apa ia selalu pulang malam? Aku ingin mengamati hingga ia selesai
bekerja. Ingin melihatnya sekali lagi dengan kostum biasa tanpa embel-embel
berwarna ungu. Aku masih mengamati dia. Mencatat pesanan pelanggan, tersenyum,
dan melaporkan pada koki tentang pesanan tadi. Hingga mengantarnya sendiri ke
meja pemesan ia lakukan sendiri. Sesekali ia berbincang pada seorang gadis—yang
tampak sedikit jutek, lalu tertawa. Entah mengapa aku selalu tersenyum setiap
kali ia tertawa. Manis sekali.
“maaf, Mas.. kami tutup 10 menit lagi” ujarnya
padaku kemudian setelah mengamati sedari tadi. Oh, rupanya resto ini tutup
pukul 11 malam.
“lha, kok cepat
sekali? Seseorang yang kutunggu belum datang lho, Mbak. Tunggu sebentar lagi
lah yaa” sergahku dengan wajah yang kusetting dengan ekspresi memelas.
“maaf, Mas..
tidak bisa. Itu sudah ketentuan di sini. Mas boleh nunggu di sini sampai jam 11
saja. Selanjutnya bisa di tempat lain..” ia cukup tegas juga rupanya. Aku
semakin tertarik.
“tunggu sebentar
lagilah, Mbak. Kami janjinya bertemu di sini. Please..” aku ingin sekali berbincang walau hanya sekadar mengelak
seperti ini dengannya. Kulirik jam tanganku, memang sebentar lagi pukul 11
malam.
“maaf, Mas..
tidak bisa. Mas bisa datang lagi besok jika memang ingin menunggu di sini”
wajahnya itu. Aku tahu dia pasti lelah seharian ini. Baiklah, aku mengalah. Aku
bangkit menuju meja kasir untuk membayar. Kemudian menghampirinya.
“baiklah, aku
akan datang lagi besok”
“terimakasih
atas kunjungannya” masih dengan wajah yang sangat menarik.
Ku putuskan
menunggu di luar dalam kijang biru tua itu. Hingga akhirnya ia keluar dengan
kostum biasa. Ku lihat ia memanggil taxi. Beberapa kali gagal. Terus kuamati.
Hingga akhirnya ia pulang bersama nona jutek yang menjaga di belakang meja
kasir tadi. Kubuntuti jejak mereka pulang. Rasanya ingin sekali mengetahui
dimana ia tinggal. Kami melewati beberapa lampu merah, dan tempat dimana ia
tepat menghadang mobilku waktu itu. Kemudian sampai di rumah bercat biru muda,
dia turun. Sedikit berbincang dengan nona jutek. Lalu masuk rumah. Oh, jadi, di
sini rumahnya?
“pelanggan pukul
tujuh datang tuh, Dhis..” Uca lagi-lagi menyenggol lengan kananku. Dia selalu
melakukan itu jika pemuda pukul tujuh itu datang. Sejak kedatangan pertamanya,
ia selalu datang pukul 07:00 PM setelahnya. Ini kali keempat pemuda itu datang
ke Melody dengan jaket yang sama dan nomor meja 12. Aku tak tahu ia punya
berapa macam jaket seperti itu. Yang jelas, ketika ada seorang pemuda duduk di
kursi meja nomor 12 dan berwarna hijau pukul 07:00 malam, itu pasti dia.
“capuccino dan
nasi goreng seafood lagi, Mas?” kuhampiri ia dengan pertanyaan yang kupikir
akan ia setujui. Ya, setiap ia datang ke Melody, ia selalu memesan menu yang
sama. Tanpa menghiraukan buku menu.
“iya, Mbak..”
jawabnya singkat. Aku kemudian menulis pesanannya pada note ungu yang kami
gunakan memang untuk itu. Tujuannya agar tidak lupa. Namun entah mengapa, aku
tetap melakukannya walau rasanya sudah terlalu hapal dengan pesanan itu.
“masih menunggu
seseorang, Mas?” basa-basiku usai menulis pesanannya.
“iya, Mbak
Gendhis.. semoga dia datang malam ini. Aku akan terus menunggu lho.. ehehe”
rupanya dia memperhatikan name tag
yang kukenakan. “aku Nathan”
“oh, begitu
rupanya, Mas Nathan..”
“panggil Nathan
saja” ia memotong kalimatku dengan cepat.
“oke, capuccino
dan nasi goreng seafoodnya akan segera datang. Di tunggu yaa, Nath..”
***
Aku jadi sering
mengunjungi Resto ungu itu usai dari aktivitas membosankanku seharian. Ini kali
keempat. Aku selalu datang pukul 07:00 PM. Selalu dengan jaket hijau
kesayanganku, ia kutaruh dalam mobil. Membantuku menyembunyikan seragam yang
kugunakan seharian jika hendak menemui gadis yang masih saja menyita sebagian
besar pikiranku. Hari ini, aku harus tahu siapa namanya.
“capuccino dan
nasi goreng seafood lagi, Mas?” ia menghampiriku, dan dapat menebak pesananku
kali ini. Aku sengaja memesan menu yang sama tiap kali datang ke sini. Semoga
itu bisa membuat perhatiannya sedikit tersita padaku. Dan kurasa, itu berhasil.
“iya, mbak..”
jawabku singkat. Kemudian ia menulis pesananku. Aku mengamati. Mencuri-curi
pandang pada name tag yang ia gunakan. Ah, tak terlihat! Tertutup rambut hitam
panjangnya.
“masih menunggu
seseorang, Mas?” ia bertanya padaku, wow. Rasanya senang sekali. Ada harapan.
Ia mulai memperhatikanku kah? Aku masih saja memperhatikan name tag yang ia
gunakan. Aku tahu Tuhan memberikan mata yang cukup bagus untukku melihat dengan
teliti.
“iya, Mbak
Gendhis.. semoga dia datang malam ini. Aku akan terus menunggu lho.. ehehe”
yup! Akhirnya aku berhasil melihatnya. Cukup panjang di sana. Tapi mataku
menangkap satu kata itu, nampaknya tak meleset. Aku bisa melihat dari ekspresi
gadis ini. “aku Nathan” sambungku cepat. Ini waktu yang kupikir tepat untuk
memperkenalkan diri.
“oh, begitu
rupanya, Mas Nathan..”
“panggil Nathan
saja” aku memotong kalimatnya dengan cepat. Aku mau dipanggil Nathan saja.
Tidak dengan kata ‘Mas’ di depannya. Agar terdengar akrab.
“oke, capuccino
dan nasi goreng seafoodnya akan segera datang. Di tunggu yaa, Nath..” ucapnya
kemudian dengan senyum yang menawan. Oh Tuhan! Aku suka senyum itu.
Entah sedari
kapan, perhatianku tersita oleh pemuda jaket hijau yang selalu datang pukul
07:00 PM dan duduk di meja nomor 12 itu. Ia selalu memesan menu yang sama dan
pulang beberapa menit sebelum resto tutup. Satu hal yang paling aku penasarani
ialah, siapa yang ia tunggu? Sudah hampir satu bulan ia selalu datang lalu
pulang setelah menunggu seharian seseorang yang tak menepati janji itu.
Seperti biasa,
pukul 07:00 PM hari ini ia datang lagi. Ada yang berbeda. Pakaiannya lebih
rapi. Tak mengenakan jaket hijau itu lagi. Setangkai mawar biru ia bawa dalam
genggamannya.
“wah, hari ini
rapi sekali, Nath.. jaket hijaunya kemana?” sapaku. Rasanya mulai tak canggung
menyapanya begitu.
“iya, Dhis..
hari ini bakal spesial banget lho. Itu kenapa penampilanku harus berbeda. Aku
pastikan dia akan datang malam ini. Mawar biru ini untuk dia” ku lihat wajahnya
berseri. Akhirnya, penantian Nathan akan terjawab malam ini.
“bagus kalau
begitu! Aku juga penasaran banget sebenarnya, siapa sih yang kamu tunggu-tunggu
sebulan ini? Ehehe” aku jujur mengatakannya.
“ntar kamu juga
bakal tahu kok, hhmm.. mana buku menunya, Dhis?” lagi-lagi ia melakukan hal
yang berbeda, ini kali pertama ia meminta buku menu. Maka kusodorkan padanya.
Kuperhatikan ia
memilih menu. Dia pasti terkejut, ternyata banyak sekali menu yang seharusnya
bisa ia coba sebulan ini. Melody menyediakan menu yang sedikit berbeda dengan
resto kebanyakan. Jika kaumencari resto dengan menu manis sebagai cita rasa
utamanya, berkunjunglah ke Melody.
“capuccino dan
nasi goreng seafoodnya yaa, Dhis..” Nathan membuka suara setelah beberapa menit
membolakbalik buku menu.
“lho, masih sama
toh?? Kamu ngga tertarik nyoba menu lain? Aku pikir ada banyak menu yang bisa
kamu coba lho, Nath..”
“ngga kok, aku
emang mau pesan itu aja. Capuccino dan nasi goreng seafood di Melody inilah
yang paling aku suka” jawabnya mantap. Aku mengangguk paham. Lalu ku catat.
“oke, capuccino
dan nasi goreng seafood akan segera datang. Permisi.”
***
Aku mengamatinya
seharian ini. Dari berangkat ke kampus. Lalu pulang. Dan kemudian berangkat
bekerja.
Aku berpikir
untuk jujur padanya malam ini. Beberapa hari yang lalu, aku melihatnya melewati
toko bunga dan tak henti menatap mawar biru di sana. Selera yang langka dan
unik. Mungkin dengan membawa mawar biru dan berpenampilan berbeda malam ini
dapat membuatnya terpesona padaku. Minimal memperhatikankulah!
“wah, hari ini
rapi sekali, Nath.. jaket hijaunya kemana?” sapanya. Aku tersanjung. Ternyata
ia memang memperhatikanku beberapa waktu ini. Rasanya bahagia sekali!
“iya, Dhis..
hari ini bakal spesial banget lho. Itu kenapa penampilanku harus berbeda. Aku
pastikan dia akan datang malam ini. Mawar biru ini untuk dia” aku tak bisa
menyembunyikan rasa bahagiaku. Wajahku pasti menggambarkannya dengan sangat
jelas sekarang.
“bagus kalau
begitu! Aku juga penasaran banget sebenarnya, siapa sih yang kamu tunggu-tunggu
sebulan ini? Ehehe” responnya. Aku berteriak-teriak dalam hati, ‘itu kamu,
Dhis! Itu kamu! Kamu yang aku tunggu selama ini!’
“ntar kamu juga
bakal tahu kok, hhmm.. mana buku menunya, Dhis?” rasanya aku ingin dekat lebih
lama dengannya. Meminta buku menu berarti ia akan berdiri di sampingku lebih
lama, kan? Aku coba memperhatikan menu yang tersedia. Ah, masih sama. Makanan
manis semua. Ku coba perhatikan kaus kaki yang ia gunakan hari ini. Oh, kuning
lagi. Mungkin dia suka warna kuning.
“capuccino dan
nasi goreng seafoodnya yaa, Dhis..” akhirnya aku memesan yang itu lagi. Haha.
Aku ingin melihat ekspresi terkejutnya lagi.
“lho, masih sama
toh?? Kamu ngga tertarik nyoba menu lain? Aku pikir ada banyak menu yang bisa
kamu coba lho, Nath..” dan berhasil. Matanya membulat. Air mukanya tak stabil.
Dasar manis!
“ngga kok, aku
emang mau pesan itu aja. Capuccino dan nasi goreng seafood di Melody inilah
yang paling aku suka” jawabku mantap. Dia mengangguk, nampaknya merasa paham.
Lalu ia mencatat pesananku. Aku memperhatikan.
“oke, capuccino
dan nasi goreng seafood akan segera datang. Permisi.”
***
Sudah pukul
10:00 PM, seseorang yang ditunggu Nathan belum juga datang. Aku dan Uca semakin
penasaran. Hari ini Melody tak seramai biasanya. Tinggallah Nathan sendiri yang
masih menggenggam setangkai mawar birunya di deret meja pelanggan. Sesekali ia
memandang ke luar jendela. Masih menunggu.
“kamu yakin yang
dia tunggu bakal datang malam ini?” tanya Uca kepadaku. Aku berhasil mengelak,
ancangan senggol bahu kirinya pada bahu kananku tak sukses kali ini.
“tadi sih
katanya gitu, Ca”
“wah, sudah jam
segini lho, Dhis.. aku khawatir dia ngga datang” benar kata Uca. Apa yang
terjadi jika yang ditunggu oleh Nathan tak kunjung datang? Sedang Mang Dali
sudah mulai mengelap meja pelanggan dari ujung belakang sana.
Setengah jam
berlalu, Nathan masih saja sendiri.
Hingga 5 menit
terakhir sebelum Melody harus ditutup pun, Nathan masih juga sendiri. Dengan
langkah yang berat aku menghampirinya. Tak tega rasanya mengusir ia yang telah
rapi menunggu sedari pukul 7 tadi.
“Nathan..” dia
menoleh padaku. Wajahnya berseri. Masih berseri.”belum datang juga ya? Kamu
tahu kan, sebentar lagi pukul 11 malam.. kami harus tutup” kuulaskan sebuah
senyum untuknya.
“iya” jawabnya
singkat. Lalu beranjak menuju meja kasir. Uca telah menunggu di sana. Aku mengikuti
dari belakang.
Usai membayar.
Satu hal yang tak pernah kupikirkan terjadi.
Nathan berlutut.
Tepat di depanku.
***
Sudah pukul
10:00 PM, aku semakin deg-degan. Itu artinya, sebentar lagi Gendhis akan
menghampiriku untuk mengabarkan resto akan tutup. Dan di saat itulah, aku akan
jujur padanya. Ku amati lagi ia melalui cermin dekat pintu, ku lihat ia mulai
berbincang dengan nona jutek itu. Sebentar lagi, Nath.. kumpulkan keberanianmu!
5 menit lagi,
namun ia belum juga menghampiriku. Ah, membuatku semakin deg-degan saja. Ayooo!
Datang, Gendhis! Katakan padaku bahwa resto akan tutup! Sedang seseorang entah
siapa di meja belakang sana sudah mulai mengelap membersihkan meja.
Beberapa menit
kemudian, akhirnya bayangan Gendhis kudapati menghampiri melalui cermin yang
biasanya kugunakan untuk memantaunya.
“Nathan..”
ujarnya. Ku lemparkan pandanganku padanya. Akhirnya, dia datang. Rasanya
bahagia sekali,”belum datang juga ya? Kamu tahu kan, sebentar lagi pukul 11
malam.. kami harus tutup” ia membuka pembicaraan. Mengingatkanku. Sesuai
keinginanku. Masih dengan senyum manisnya.
“iya” jawabku
singkat. Lalu beranjak menuju meja kasir. Nona jutek telah menungguku di sana.
Gendhis mengikutiku dari belakang.
Usai membayar.
Aku memberanikan diri untuk berlutut di depannya. Ku kumpulkan semua
keberanianku.
Tepat di depan
Gendhis.
***
“Sukma
Gendhis Trisleo, maukah menjadi kekasihku?”
Aku mematung.
Uca kulihat berkedip cepat, ia memang selalu begitu jika terkejut. Aku
benar-benar tak paham. Apa-apaan ini?
“Maaf, Dhis..
sebenarnya, tak seorangpun yang sedang aku tunggu sebulan ini. Aku butuh waktu
sebulan untuk mengenal kamu. Memperhatikan kamu. Aku bahkan sering menemukan
kamu di luar resto, mencari tahu dimana kamu tinggal hingga akhirnya memutuskan
untuk selalu datang ke sini. Ini mungkin terlalu tiba-tiba untuk kamu, tapi aku
sudah terlanjur bertekad untuk jujur padamu malam ini.”
Aku speachless. Jadi, sosok yang ditunggu
Nathan dalam sebulan ini itu? Alasan ia berpenampilan berbeda malam ini?
Astaga. Aku bisa merasakan wajahku semerah kepiting rebus sekarang.
“Nathan, kamu
serius?” entah mengapa pertanyaan itu yang keluar. Pemuda ini memang banyak
menyita pikiranku akhir-akhir ini. Misterius dan selalu membuat penasaran.
“apa aku
terlihat tidak serius, Nona?” ia bangkit dari posisi berlutut tadi. Masih
dengan setangkai mawar biru di genggamaan kanannya. Maju selangkah, lebih dekat
depan wajahku. Baiklah, dia sukses membuatku grogi setengah mati sekarang!
***
“Sukma Gendhis Trisleo, maukah menjadi
kekasihku?”
Dia diam.
Nampaknya sedikit bingung dan terkejut.
“Maaf, Dhis..
sebenarnya, tak seorangpun yang sedang aku tunggu sebulan ini. Aku butuh waktu
sebulan untuk mengenal kamu. Memperhatikan kamu. Aku bahkan sering menemukan
kamu di luar resto, mencari tahu dimana kamu tinggal hingga akhirnya memutuskan
untuk selalu datang ke sini. Ini mungkin terlalu tiba-tiba untuk kamu, tapi aku
sudah terlanjur bertekad untuk jujur padamu malam ini.”
Dia masih
mematung. Ekspresinya membuatku gemas. Wajahnya memerah. Haha.
“Nathan, kamu
serius?” tanyanya. Itu terlihat bagai
lampu hijau di mataku. Memupuk ekstra keberanianku seketika. Aku memang sangat
menyukainya. Semoga mawar biru ini bisa membantuku.
“apa aku
terlihat tidak serius, Nona?” aku bangkit dari posisi berlutut tadi. Masih
dengan setangkai mawar biru di genggamaan kananku. Maju selangkah, lebih dekat
depan ke wajahnya. Cantik sekali!
***
“eh..” aku
mundur selangkah. Nathan mengacungkan mawar biru itu lagi. Aku tersenyum. Lalu
kuambil tanpa ragu. Aku memang sangat menyukai mawar biru, juga dia.
***
“eh..” lalu ia
mundur selangkah. Kuacungkan mawar biru itu lagi. Kemudian dia tersenyum. Itu
benar-benar menyejukkan. Ia mengambil mawar biru itu. Oh Tuhan! Dia menerimaku!
***
“oh ya, Dhis.. aku ingn
kembalikan sesuatu padamu” Nathan mengeluarkan lembaran Sultan Mahmud Badaruddin II yang
dulu pernah diberikan Gendhis padanya.
Gendhis mengenali lembaran ungu kebiruan
itu. Ada tanda tangan dan namanya di sisi belakang. Oke, ini bukan contoh yang
baik ketika kaumengisi waktu bosan dengan mencorat-coret uang.
“jadi, yang waktu itu.. astaga..” wajah
Gendhis bersemu merah. Entah apa yang ia pikirkan. Yang pasti, Nathan tengah
terbahak sekarang. Kemudian ia menyalakan mesin hewan besi kesayangannya—yang
masih berplat hitam, dan melaju menembus dingin malam.
wah, Keren beud! 2 sudut pandang!
BalasHapusakhirnya penuLis favorite saya nuLis Lagi, :D
"kepiting rebus" - digaris bawahi, :D
#eaaa
ehehehehe
BalasHapus