Bismillahirrahmaanirrahim
Asssalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh
Yang terhormat, Bapak dosen Public Speaking selaku
pembimbing kami, bapak Zuhdan Aziz.
Dan teman-teman yang berbahagia,
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kita ke
hadirat Allah Subhaanahuata’alla, Tuhan semesta alam yang Maha Mengasihi
hambanya, karena atas izin-Nya sematalah kita dapat bertemu di tempat yang
cerah ini dengan kesehatan juga kesempatan yang memadai. Tak lupa pula kita
layangkan syalawat serta salam kita kepada baginda Rasullillah, Nabi Muhammad
Shollallohu alaihi wassalam. Yang telah menuntun kita dalam pantai kegelapan
menuju pantai yang terang benderang.
Teman-teman yang berbahagia,
Terimakasih saya ucapkan atas kesempatan yang diberikan
kepada saya untuk dapat berpidato di hadapan rekan-rekan sekalian. Di hari yang
cerah ini, saya akan membawakan sebuah pidato yang bertema sangat akrab dengan pemandangan
keseharian kita, terutama sebagai mahasiswa, yaitu merokok.
Teman-teman yang saya sayangi,
Tahu kah kalian? Bahwa merokok ternyata lebih berbahaya dari
yang pernah terbayang oleh kita? Itu mengapa di negara-negara maju seperti
Amerika dan Inggris misalnya, merokok merupakan suatu tindakan yang sangat
hina. Jikapun di sana terdapat pecandu rokok yang terlanjur terjebak seperti
kebanyakan orang-orang Indonesia kita, mereka akan bersembunyi dan sangat takut
terlihat untuk merokok. Mereka juga memiliki peraturan agar tak semua kalangan
usia dapat membeli rokok, berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia yang
setiap orang asalkan beruang, dapat membeli rokok.
Teman-teman yang berbahagia,
Seperti yang kita ketahui bersama, rokok merupakan silinder
dari kertas berukuran panjang antara 70-120 mm, hal itu bervariasi tergantung
negara, juga berdiameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang
telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara
agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya.
Teman-teman yang berbahagia,
Terutama kepada rekan-rekan perokok, adakah di antara kalian
yang mengetahui bagaimana sejarah dari rokok itu sendiri? Tak hanya sekadar
menghisap batangnya saja. Mari kita
selidiki lebih jauh mengenai sejarah rokok itu sendiri. Yang pertama kali
menggunakan rokok ialah orang-orang pada suku Amerika yaitu Indian, Maya, dan
Actec. Kali pertama, merokok dilakukan dengan pipa dan tembakau dibakar di
ujungnya. Suku-suku Amerika merokok
untuk mempererat hubungan antar suku ketika berkumpul, agar lebih dekat.
Sedangkan suku Indian, menggunakan rokok sebagai media ritualnya terhadap
Dewa-dewa. Tanpa mengetahui efek negatif yang mengendap pada diri mereka. Lalu
pada abad 16, Christoper Columbus beserta rombongannya datang ke benua Amerika
dan tertarik untuk ikut merokok, hingga ia membawa kebiasaan itu ke Eropa.
Kemudian seorang Jean Nicot yang berkebangsaan Prancis menyebar luaskan budaya
itu ke seluruh penjuru Eropa, sehingga dia menjadi sangat terkenal dan namanya
digunakan untuk Nikotin. Di indonesia sendiri, merokok dipelopori oleh seorang
Haji Djamari asal kota Kudus pada abad ke-19. Pada masa itu, banyak masyarakat
mengeluh sakit pada bagian dadanya. Kemudian Djamari mengoleskan minya cengkeh
pada mereka dan hal itu ternyata dapat meredakan. Maka terciptalah gagasan
Djamari untuk mencampur tembakau dan cengkeh untuk dijadikan rokok. Rokok itu
dibalut dengan daun jagung dan mengeluarkan bunyi ‘kretek’ ketika di bakar.
Sehingga tersebutlah rokok tersebut menjadi rokok kretek.
Teman-teman yang berbahagia,
Meskipun telah banyak perda-perda yang telah diberlakukan
oleh pemerintah dalam rangka menanggulangi para pecandu, bahkan telah
ditetapkan bahwa tiap 31 Mei diperingati sebagai hari tanpa tembakau sedunia,
masih saja banyak perokok yang seolah tak peduli akan hal itu. Bahkan, walau
telah diperingatkan secara terang-terangan pada tiap bungkus kotak kemasan
rokok mengenai bahayanya merokok, tetap saja masih banyak perokok yang seolah
tak peduli dan menganggap tulisan peringatan itu merupakan hiasan belaka.
Padahal, dalam tiap batang rokok yang mereka hisap, dapat memicu 25 jenis
penyakit dan banyak di antaranya mengganggu pernapasan.
Teman-tema saya yang budiman,
Hal konyol yang terjadi di negeri kita ini selain sebagai
surga bagi para perokok ketika negara yang lain mulai tak berminat adalah bahwa
ternyata hasil dari pengedaran rokok dalam negeri sendiri merupakan investasi
besar negara dan sangat berpengaruh dalam pemasukannya. Tidakkah kalian
berpikir? Teman-teman sekalian para perokok telah dimanfaatkan oleh negara? Secara
tidak langsung, negara tengah menyeleksi orang-orang pandai mana yang tengah
berpikir untuk tidak merusak tubuh mereka sendiri? Masih kah kalian termakan
dengan kata ‘trend’ yang entah dari mana asalnya. Karena jika
teman-teman—terutama yang lelaki, ingin ketahui, banyak sekali cewek yang tidak
suka dengan asap rokok. Bahkan hasil dari survei saya, mereka berpendapat tak
peduli setampan apapun laki-laki apabila ia adalah seorang perokok, adalah
faktor besar yang dapat membuat mereka ilfeel. Jika kalian kaum hawa ingin
mendapatkan wanita baik-baik dalam hidup kalian, saran saya cobalah untuk
berhenti merokok sekarang juga. Rasa nyaman merupakan hal yang tak kalah penting dalam bersosialisasi, dan zaman
sekarang bukanlah zamannya merokok sebagai lambang keintelegenan. Sayangilah
diri kita, untuk mulai menyayangi orang-orang di sekitar kita.
Sahabat-sahabat saya yang baik hatinya,
Terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya hari
ini. Sekin pidato dari saya, semoga dapat menjadi pertimbangan untuk membuka
mata kita lebih lebar bahwa zaman tak lagi purba.
Sekian
Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh
Komentar
Posting Komentar