Jika singgah di Yogyakarta dan ingin
mengunjungi tempat bersejarah yang kaya akan nilai seni, tak ada ruginya untuk
menambah Makam Suci Imogiri dalam list
Anda. Nuansa artistik dan angker berpadu dalam tiap makam raja-raja Mataram tersebut.
Pada Rabu (29/06) lalu, mahasiswa
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta jurusan Ilmu Komunikasi kelas A berkunjung
ke Makam Suci Imogiri. Perjalanan dari kampus menuju makam menghabiskan ± 50
menit waktu perjalanan menggunakan sepeda motor.
Permakaman Imogiri,
Pasarean Imogiri atau Pajimatan Girirejo Imogiri berlokasikan di
Pajimatan, RT. 01 / RW. 16, Girirejo, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta bagian
Selatan. Sebelum memasuki makam, terdapat masjid di sebelah kiri setelah pintu
masuk yang digunakan untuk menyolati jenazah raja untuk kemudian dibawa ke
atas. Pemakamam raja-raja tersebut terdapat di atas bukit, untuk mencapainya
harus melewati rentetan anak tangga yang sangat banyak. Kaki kami serasa lemas
dan berotot seketika ketika menaiki tiap anak tangga berlapis semen yang
selebar ± 4 meter tersebut. Sekadar memberi saran, untuk menaiki tangga
tersebut hendaklah mendaki dengan formasi menyamping. Ambil langkah meliuk-liuk
seperti jalan ular, maka rasa capai tidak terlalu terasa jika dibanding mendaki
dengan langkah tegak lurus.
R.
Daldiri sebagai juru kunci makambanyak menceritakan mengenai pemakaman ini.
“Keasrian dari makam inilah yang kami utamakan,” ungkapnya.Ia
juga menceritakan mengenai filosofi anak tangga yang konon katanya berjumlah
409 buah. Anak tangga dari pemukiman menuju daerah dekat masjid berjumlah 32
anak tangga, jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa makam Imogiri dibangun
pada tahun 1632.
Kemudian anak tangga dari daerah dekat masjid menuju pekarangan masjid
berjumlah 13 anak tangga, jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa Sultan Agung
diangkat sebagai raja Mataram pada tahun 1613. Lalu anak tangga dari
pekarangan masjid menuju tangga terpanjang berjumlah 45 anak tangga, jumlah
anak tangga ini melambangkan bahwa Sultan Agung wafat
pada tahun 1645.Anak
tangga terpanjang berjumlah 346 anak tangga. Jumlah anak tangga ini
melambangkan bahwa makam Imogiri dibangun selama 346 tahun, dan anak tangga di sekitar kolam berjumlah 9 anak
tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan Walisongo.
Kami sendiri terlalu kewalahan untuk menapaki tiap anak tangga, walau niatan
awal ingin menghitung jumlah anak tangga tersebut, alhasil setiba di puncak tak
kami dapati jumlah yang sama dari tiap orang.
Untuk
jadwal pembukaan makam untuk umum terdapat jadwal yang telah ditentukan,
tertera pada papan hitam di kawasan makam. Hari Senin, mulai
pukul 10.00 -13.00, hari Jumat mulai
pukul 13.30-16.00, tanggal 1 dan 8 bulan
Syawalmulai
pukul 10.30 – 13.00, tanggal 10 bulan Besar mulai pukul 10.30-13.00. sedangkan
pada bulan Puasa dan hari besar agama Islam, Makam Imogiri ditutup untuk umum.
Untuk memasuki makam bagian dalam, terdapat ketentuan dalam berpakaian yang telah ditentukan pula. “Kami mempermudah pengunjung dengan menyediakan pakaian yang dapat disewakan,” ujar Daldiri.Untuk pengunjung wanita yang ingin memasuki makam di bagian dalam harus mengenakan kain panjang, kemben, dan melepas semua perhiasan. Sedangkan untuk pengunjung pria mengenakan kain panjang, baju peranakan, dan blangkon.“Jika tidak menaati aturan tersebut, maka pengunjung hanya diperbolehkan sampai pintu gerbang pertama saja,” tambahnya.
Selain pengalaman dan tentunya ilmu yang dapat kita peroleh dari penjaga-penjaga makam yang ramah, berwisata ke aset budaya negara memang harus dicoba sekali waktu. Agar kita lebih peka dan dapat belajar dari sejarah, sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan pandai bersyukur.
Zulfin
Hariani
20120530038
ILMU KOMUNIKASI A
Komentar
Posting Komentar