Dia datang lagi. Seorang yang kukenal, yang selalu bersama
sejadah hijau toska. Entah, apa ingatannya tentangku masih sama seperti dulu
atau bagaimana. Aku masih selalu ingat dia.
Kudengar kabar, ia masih belum memutuskan untuk menikah. Ia masih
sendiri di rumah menjaga seorang ibu yang semakin hari semakin menua. Dia masih
mengajarkan Bahasa Inggris pada murid-murid yang datang les kepadanya. Dan masih tetap, ia menawan.
Aku selalu mengambil shof
tepat di belakangnya belakangan ini. Entah dia sadar atau tidak, entah dia
merasa atau tidak.
Kami sempat berbincang. Sangat sebentar sebenarnya. Ia menanyakan
kabarku, waktu kepulangan, dan jurusan yang kuambil. Aku yang sangat ingin lama
berbincang padanya malah hanya bisa sebatas menjawab. Dia masih suka tersenyum,
senyumnya masih berkharismatik.
Aku selalu menerka-nerka jalan pikirannya. Mencoba empati
dan menemukan alasan terlogis atas segala putusannya. Beberapa kabar kudengar,
ia memutuskan untuk menghabiskan waktu merawat ibu saja. Entah apa yang ia
pertimbangkan.
Belakangan kudengar juga kabar bertentangan, tentang
teman-teman seperjuanganku ketika SD dan SMP. Mereka telah memiliki seorang
putra. Ya, mereka telah menikah.
Hal itu membentuk persepsi—cukup rumit—dalam pikiranku.
Beberapa orang nyatanya terlalu terpaku dengan usia. Keputusan
seseorang yang berusia sering jadikan mereka ternilai sebagai seseorang yang pandai,
ataupun sebaliknya. Padahal itu ‘kan relatif. Yang aku maksud adalah, bagaimana
mungkin penilaian terhadap seseorang bisa berubah hanya karena keputusan yang
ia ambil di usia keberapanya dia? Toh jika kau merasa benar mengenal ia,
keadaan dia, ketahanan dia terhadap ucapan orang, dan apalah-apalah yang bahkan
tidak menutup kemungkinan dapat mengubah diri mereka sendiri, tidak ada yang
perlu diherankan!
Setiap orang punya jalannya sendiri. Otak kita dan dia
berbeda, apa hal itu tidak cukup sebagai alasan atas jalan pikir setiap orang
berbeda?
Seorang seperti aku pun dulu pernah berpikir untuk menikah
usia muda, tapi sekarang sudah tidak lagi. Nah, itu.. Apa saja bisa merubah
pikiran apa saja pada seseorang kapan saja. Terkadang, kita dituntut oleh alam,
untuk selalu lebih belajar dan mengerti apa-apa yang harus diprioritaskan
sebagai kebutuhan jasmani-rohani sendiri ataupun orang-orang yang membutuhkan
kita.
Well, perjalanan masih sangat panjang. Masih banyak kejadian
di luar sana yang menunggu untuk diambil pelajaran atas tiap gerak kecil
perubahannya.
Selamat belajar sepanjang waktu, Fifin.
Selong
12:40 PM
Komentar
Posting Komentar