Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakaatuh
J
Holaa~
Selamat hari Kamis, Bangkok.
Bangkok?
Yaa.. aku sedang berada di Negeri Gajah Putih sekarang,
Thailand.
Ga percaya?
Yaudah. Aku juga ngga maksa. Haha.
| bareng Laila |
Okray, aku mau ceritain dulu about ‘how’ and ‘why’ aku bisa
berada di sini.
Jadi, aku mengikuti semacam Workshop Internasional. Yang
berangkat dari kampusku (tercinta) adalah lima (5) orang mahasiswa—termasuk
aku, dan tiga (3) orang dosen. Mahasiswanya sendiri dari beragam semester. Aku
dan Laila semester tiga (3), Mbak Widya dan Afifah semester lima (5), kemudian
Mas Nasa semester tujuh (7). Bareng pak Aswad juga (Ketua jurusan Ilmu
Komunikasi), Mbak Firly (dosen Public Relation), Mbak Anti+Rara (anak Mbak
Anti)+Mas Yudhi (suami Mbak Anti)—yang juga dosen (dosen Public Relation).
Apa itu terdengar ribet? :p
Workshop yang diselenggarakan di Chulalongkorn
University ini benar-benar Go International.
Bukan hanya karena cara kami yang berkomunikasi menggunakan full Bahasa
Inggris, tapi ini mengenai kualitas. Wow, pengalaman yang benar-benar mahal
deh. Ehem, ‘mahal’ dalam arti yang sebenarnya dan arti tidak sebenarnya gitu
maksudnya. Wkwk.
Chulalongkorn University (CU) itu kabarnya Universitas nomor
satu di Thailand. Kalau di Indonesia, semacam Universitas Indonesia (UI).
Awalnya siy, aku ga tahu kalau ternyata dia seWOW itu. Di UMY ‘kan ada
mahasiswa Thailand yang exchange,
nah, dianya yang bilang gitu. “Suatu kebanggaan banget kalau bisa nuntut ilmu
ke sana,” katanya. Seorang Tour Guide
kami pun bilang gitu, “Perusahaan mana yang tidak tahu Chulalongkorn? Jika dia
mengetahui kamu lulusan dari Chula, kamu akan sangat mudah mendapatkan
pekerjaan.”
Jadi, aku menemukan waktu yang tepat untuk mempraktekkan
bahasa Inggris yang telah aku pelajari sedari SD itu. Yaa, benar-benar
mempraktekkannya langsung dengan ‘bule’ asli di tanah mereka—bukan tanah
negeriku. Oh iya, itu workshop diikuti oleh mahasiswa se-Asean, ada yang dari
Laos dan Cambodia juga. Mereka awet muda, putih, cantik (yang cowok juga
cantik.. muka-muka boyband.. haha),
pintar, ramah, dan asyik.
Workshop itu sendiri mengenai ASEAN Market-Public Relation,
adalah konsentrasi yang ingin aku pilih di semester lima (5) nanti. Gile, asyik
bener. Benar-benar nambah ilmu. Aku sudah lama banget ingin ke luar negeri
untuk..yaaa sebut saja belajar—walau
sebenarnya aku selalu merasa belajar setiap waktu di manapun aku berada.
Tapi ini beda. Ah, aku mulai merasa rumit membahasakan semingguku di tanah
orang ini.
Okray.. pelan-pelan, Fin..
Ceritakan yang runtut.. agar tidak ada lagi rasa yang
mengganjal.
Huuuuuaa :o
Mau cerita dari mana?
==”
Yaaa, jadi, gitu deh. Udah, gitu ajja deh.
==”
*kemudian pergi sikat gigi*
*kembali lagi*
Oh yeah?
Baru sampai mana tadi?
Wkwk
Okray, jadi untuk berangkat ke sini, perlu beberapa
persiapan. Seperti, membuat paspor. Wow, untuk cerita mengenai membuat paspor
pun rasanya bakal panjang banget.. wkwk
Ayooo, kita intermezzo lagi!
Lalalalalala
Perjuang buat paspor cukup berat. Mengapa?
Karena harus membuatnya di kantor Imigrasi Mataram. Itu
artinya, aku harus ke Mataram. Nah, how
to go to there?
Bapakku itu kan bisa dibilang ngga selalu ada untuk aku. Untuk jadi seseorang yang mengantar ke
sana kemari memenuhi kebutuhan maksudnya. Sedari dulu kami emang dididik untuk
mengurusi urusan pribadi sendiri siy sebenarnya.. hum.. nah, hari pertama berencana
buat paspor emang lancar. Tapi, proses jadinya paspor itu kan ngga bsa sehari
langsung jadi. Butuh sampai empat (4) hari. Dan untuk itu, aku harus berulangkali
menggunakan kendaraan umum untuk dapat menuju ke Mataram.
*eh, aku ke luar bentar, mau beli sesuatu*
*balik lagi*
Itu tadi mbak Afifah, Widya, dan Laila ngajakin keluar. Kita
beli celana batik Thailand lho.. wkwk
Wah.. jadi (seolah) banyak halangan gini yak? Padahal kan
mau nulis doang siy ceritanya ._.
*Back to the topic*
Gitu deh, untuk buat paspor ajja musti ke Mataram pakai
engkel. Panas. Polusi. Asap. Mana ngga tahu pun ongkos pakai engkel ke Mataram
berapa. Haha. Beberapa hari di waktu itu, aku habiskan dengan pagi-pagi sekali
berangkat dan malam-malam sekali pulang. It
is okay. Tapi kalau sampai sebegitu terus setiap hari, rempong juga.
Beberapa buber ngga bisa kuhadiri, padahal sudah bayar. Tapi untung ajjadeh, Buber
Fospastnya ikutan. Wkwk
Nah, untuk alasan mengapa aku harus terburu-buru balik ke
Jogja pun, bisa dibilang untuk hal ini. Bukan terburu-buru juga siy, yaa cuman
agak cepet ajja.. ada persiapan/pembekalan untuk ke Chula dimulai tanggal 20
Agustus lalu, pun persiapan Mataf (sebutan untuk ospek di UMY). Itu jadwalnya
jadi saling tumpangtindih, baru selese rapat-langsung pembekalan-rapat
lagi-persiapan lain (ke money changer, ke XL center, ke Malioboro, ngelayanin
beberapa ‘minta bantuannya’ maba). Gitu kebanyakan.
![]() |
| selesai nukar rupiah ke bath |
![]() |
| ngedekor panggung buat mataf |
![]() |
| duit bath |
Sebelum berangkat ke Thailand, aku ada ngesemes beberapa
kontak yang kira-kira bakal ngubungin aku selama seminggu ke depan. Ngabarin
kalo nomorku ngga aktif.
Kenapa ngga aktif?
Karena XL mahal banget kalo di luar negeri. Tariff ngirim Per-sms
ajja Rp 5.000 (kalo yang ngirim dari Indonesia—ternyata—tarifnya normal),
nelpon per-menit juga Rp 5.000 (yang ini kedua belah pihak diambil pulsanya). Kebayang
ngga? Masa cuman bales sms bilang “ok” ntar langsung abis Rp 5.000, nelpon juga
baru bilang “halo, assalaamualaikum” udah langsung abis Rp 5.000 lagi. Beli
pulsanya di mana? Mending ga usah dipake deh. Internetnya juga mahal tuh,
per-kbs sampai Rp 35.000. dan itu semua belum termasuk PPN lho. Sedang pulsaku
sisa empat ribuan sebelum berangkat. Huhu.
Kabarnya sebelum keberangkatan, di hotel ada FreeWifii, rencananya lewat sosmed ajja
gitu deh saling ngabar-ngabarinnya. Walau ternyata setelah di sini, susah
banget buat bisa ngakses. Dijemput bus kampusnya ajja pagi-pagi bener (kita ga
mau kalau selamanya Indonesia dijudge
sebagai Negara yang orang-oangnya suka ngaret). Pulangnya pernah sampe jam sebelas malem gitu. Huuue.
Eh, bedewe, aku udah bilang berangkatnya kapan belum siy?
Wkwk
o.O
bener-bener deh, ini tulisan yang ngga ada rapi-rapinya ._.
*jedukin kepala ke tembok*
Berangkat ke Bangkok hari Ahad tanggal 1 September 2013.
Rencana semula siy tanggal 15 September 2013. Nah, pas udah di Lombok, baru deh
ditelponin Pak Aswad dan Mbak Firly, dikabarin kalo berangkatnya dipercepat.
Kaget? Cukup kaget. Itu artinya, jatah liburan berkurang karena musti cepet
balik, juga ga jadi ikutan nge-mataf, pun paspor harus cepet kelar, sedang
kantor Imigrasi bakal libur Ramadhan sampai Lebaran.
Pas hari H, berangkat ke Adisucipto aku barengan Mbak Widya.
Kebetulan gang kost kita sama. Bareng Laila juga sebenarnya, tapi dia diantar
Angga. *ehem
Itu aku inget banget. Waktu lagi siap-siap, sekitaran waktu
subuh, eh, lampu mati. Mana senterku juga udah redup. Argh! Untuk ajja Aflah datang
membawakan cahaya *halah
![]() |
| Mbak wid lama, argo terus berjalan xD |
Untuk sejauh itu, banyak pengalaman baru yang aku dapatkan.
Dimulai how to make passport, trick
packing yang jitu, cara mengefisienkan waktu, bagaimana cara berbagi kamar
pada teman-teman yang kosnya masih sepi, cara ini-itu di bandara yang tak
seperti biasa aku lakukan jika hanya ingin mudik ke Lombok—harus ke ke bagian
imigrasi dululah-itulah..dan, masih banyak lagi! Pun tentang seseorang—maksudku
beberapa—yang memberikan pengakuan ‘artiku’ terhadap dirinya, tentang keajaiban
doa, (dan selalu) tentang beberapa persepsiku dahulu yang akhirnya aku bantah
sendiri. Tentang mengerti bahwa orang-orang yang sudah mulai beraktifitas
sepagi yang aku lakukan seperti hari keberangkatan itu, adalah orang-orang yang
memiliki kepentingan lebih besar dibanding orang-orang yang bergegas di kala
matahari terbit.
Hum.. pokoknya, mainingfull
deh J
Nah, masih mengenai keberangkatan, kita musti transit di
Jakarta dulu sebelum ke Bangkok. Ke Jakartanya pakai maskapai Batik Air, jam berapa
yak? Lupa. Astaga! Kok lupa aku? O.o
![]() |
| check in ke Jakarta |
![]() |
| masih bareng Laila |
Pokoknya, ke Jakarta ga nyampe sejam di udara. Itu nyampenya
di terminal 3. Nunggu sampe 6 jam buat penerbangan selanjutnya. Pake Air Asia.
Eh, sempat ketemuan juga sama Paman Aris di Jakarta. Dia penyayang banget kayaknya.
Walau aku agak horror dipeluk macam itu ._. aih, nambah uang saku juga jadinya
:p wkwk
Aku ingat, di Soekarno-Hatta itu, akunya belum sempat
sarapan. Nah, karena kalah sama lapar dan tuntutan orang-orang, beli nasi goreng
deh. Huh. Seperti yang dapat diduga, nasi goreng ala bandara itu MAHAL! harganya
sampai Rp 30.000 gitu. Nasinya keras lagi. Aih.
![]() |
| nasi goreng mahal |
Sebelum berangkat, telponan dulu dong yaa. Sama orang-orang
terdekat dan tersayang. Mama-Bapak-Bibi-Embah-Nini-Omen-Khaylila-Paman-Arka.
Cus ke Thailand. Di atas pesawat sampai 3 jam. Asli, beku.
Untung pakai jaket—untuk jaket, aku musti bongkat koper lagi.
Dan ketika berada di sini.. Rasanya?
Seperti bepergian jauh bersama keluarga sendiri.
Beneran deh. Kekeluargaannya kental banget. Dosen cewek kami
panggil ‘mbak’, yang cowok ‘mas’. Eh, tapi kalo Pak Aswad mah ngga siy.. wkwk.
Tapi walau begitu, beliau tetap berjiwa muda lho. Ah, lebih cocoknya disebut
perjalanan jauh bareng saudara sendiri, kakak-adek gitu. Ngga ada
canggung-segan atau semacamnya. We are same.
Ngakak yaa ngakak. Saling pantok yaa
saling pantok.
Ketika melihat kota Bangkok untuk kali pertama dalam
hidupku: aku tertegun.
Aku sadar, aku bukan di Indonesia lagi. Tidak di Jakarta,
tidak di Jogja, tidak di Lombok.
Aku di tempat jauh.
Ternyata, emang beneran ada populasi manusia yang hidup di
tempat yang berbeda selain di tempatku. Bahasa yang digunakan berbeda. Tulisan
balihonya tidak menggunakan alphabet. Suhunya? PANAS! Bangkok itu ibu kota
Negara terpanas di dunia. Malam pukul 09:00an ajja diwaktu itu, suhunya sampai
30˚C. Di sini, balita sampai embah-embah bisa bahasa Thailand. Keren, kan?
Haha.
Pokoknya, banyak hal baru deh. Wkwk. Eh, kita dijemput sama
Mba Sarah dan Mas Ridho di bandara. Mereka sudah 3 bulan—kalo ga salah—di
Bangkok, mereka adalah mahasiswa exchange.
Keren deh.
Sejauh mata memandang, tidak kulihat Baitullah. Padahal kabarnya siy ada. Cuman ngga ketangkep sama mata
kerenku kalik yaa. Hum.. di sini emang
mayoritasnya Buddhis siy. Tidak ada adzan yang bersahutan seperti di Indonesia.
Aku berpikir lagi, wow.. bahkan ditempat yang sangat minim kaum muslimnya,
Allah SWT tetap melimpahkan nikmat sumberdaya di sana. Ingin rasanya segera
bersujud memuliakan Allah SWT. Subhanallah.
Kota Bangkok maju banget. Gedungnya tinggi-tinggi. Kalo
nengok dari kaca jendela, ngga bakal keliatan tuh sampai ujung tertinggi
gedungnya. Jalanannya rapi dan berlayang-layang. Tidak ada sampah. Yaa, cuman
itu siy, banyak lampu merah. So, kalau menyoal traffic jam? Wow! Parah!
![]() |
| depan hotel |
Hari pertama, langsung chek
in di hotel. Nama hotelnya Sawasdee
Welcome Inn Hotel. Salah pilih deh kayaknya, itu hotel sempit banget. Emang
siy, ada kamar mandi, springbed, AC, TV, dan westafelnya. Tapi.. yaa sempit!
Jadi, ceritanya pihak Chula udah ngasi rekomendasi buat kita mengenai
hotel-hotel yang terdekat dari kampus. Eh, ternyata foto di internetnya menipu.
Iyuuh.. well, that is not a big problem
siy. Toh kamar ini bakal berfungsi buat tempat bobo unyu ajja. Selebihnya,
hari-hari kita bakal habis di kampus dan jalanan ajja.
![]() |
| makan malam perdana: nasi goreng kepiting |
Sarapan esoknya di kantin kampus, dianterin mbak Nunik. Dia exchange juga, kebetulan banget dari
Jogja. Kita diantar ke kantin yang makanannya halal. Wow. Di sini kalau makan
ga bisa sembarangan. Musti lihat label halalnya dulu. Soalnya, walaupun bukan
babi, kalo ga ada lebel halalnya bisa bikin kepikiran juga. Yaa, mungkin itu cuman pikiranku.. tapi, coba
deh pikir, gimana dengan ayam—yang ngga berlebel halal? Ntar kalau
disembelihnya ga nyebut asma Allah gimana? Haram dong. Mending makan ikan dan
sayur, kan? Nah, ntar kalo kokinya nyediain masakan daging babi tepung dan ayam
tepung, gimana? Jangan-jangan tepung yang dipake sama. Atau malah waktu
ngolahnya, pancinya sama. Haduh.
![]() |
| rasanya aneh ._. |
Itu kantinya canggih. Pake semacam card kalo mau belanja. Satu card
seharga 100 Bath. hitung deh, terakhir kali aku nuker, 1 bath sama dengan Rp
390,-.
Buah-buahnya seger! Emang deh, Bangkok rajanya buah-buahan.
Nasinya putih-lemes-harusm-manis. Enak!
![]() |
| makan di kantin *halal |
Ternyata, orang Indonesia ada di mana-mana..
Nah, ketika Workshop berlangsung, itu keren banget. Wkwk.
Aku jadi punya banyak teman baru. Beberapa namanya sulit aku ingat. Aneh-aneh
soalnya. Yang paling aku ingat yaa si Kay, Mo, Li. Itu juga karena namanya
pendek-pendek banget. Wkwk.
Kita ngebahas tentang
Market ASEAN. Marketingnya Public Relation se-ASEAN gitu deh. Nah, itu
produknya bisa berupa jasa, orang, benda.. pun, tema kita adalah entertain.
Kita musti buat semacam program gitu, perpaduan dari masing-masing Negara. Aku
sempat nawarin Raditya Dika sebagai produk celebritis. Menurutku, dia
multitalent. Blogger, novelis, sutradara sekaligus penulis skenario dan menjadi
aktornya. Seorang stand up komedi juga. Ah, pokoknya aku rekomendasiin banget
dah. Mereka sampai browshing tentang Raditya Dika jadinya.
Hasilnya?
Mereka bilang, “We
need someone that have good looking.” Dengan logat Thailand. Aku sadar, si
Dika ini ga pernah fotoan dengan pose yang bagus. Si Mo nunjukin foto Dika yang
lagi mangap ngakak depan microfon ke arahku sambil bilang, “Are you sure, Fin?”
bruakakakakakak xD
Waktu aku nanya selera cowok mereka itu yang kayak gimana,
mereka nunjukin personelnya BIGBANG, Suju.. wah. Pantes.. eh, aku sempat mau
nunjukin video boyband gagalnya si Dika. Tapi.. kayaknya ngga jadi deh. Hahaha.
Akhirnya, kita pakai Marcel. Artis Indonesia. Haha.
Presentasinya seru. Asyik. Ah, aku baru sadar, betapa dangkal dan standarnya
bahasa inggris yang kukuasai. Jika dibanding mereka? So far.. tapi, aku menikmati sekali. Sure. Aku jadi terpompa untuk
ingin belajar lagi-lagi-lagi.
Farewell times. Rasanya
sedih banget, tapi memang harus, kan? Firasatku mengatakan, suatu hari nanti,
aku akan kembali ke tempat ini. Entah, itu sekadar firasat atau harap.
Penjamuan mereka luar biasa terhadap tamu. Pelayanannya
juga, serasa raja deh. Wkwk. Apa gegara mereka merupakan Negara yang beraja?
Ngomongin raja dan ratu, aku menarik kesimpulan, untuk menjadi seorang raja dan
ratu sama artinya dengan kamu terlatih menjadi model. Ini beneran, karena
hampir di tiap tempat yang kami kunjungi, selalu ada foto raja dan ratu dengan
foto ukuran jumbo.
Di hari ketiga baru kerasa banget kangen rumahnya. Kangen
masakan Indonesia. Kangen sms dan telepon dari orang-orang yang pastinya sayang
banget sama gue. Haha. Pookoknya kangen berat. Dan masih ga ada koneksi. Ada
siy, tapi muahal *lirik warnet di malam hari*.
Ah, sampai-sampai kebawa mimpi lho kangennya.. :/
Kehidupan malam Bangkok ga jauh beda sama Yogyakarta, cuman,
lebih panas dan…lebih berbahasa asing. :p
![]() |
| plat bus kami :p |
Hari-hari di minggu terakhir, kita ada fieldtrip gitu bareng si Game, our
tourguied. Nama yang aneh. Itu kayak nama mainan, Video Game gitu.. *Oops
#AmpuniAkuGame
| bareng Game |
Aku ada pengalaman rada freak
sama si Game ini. Yaa, tau kan? Cowok-cowok di Thailand itu cantik-cantik. Nah,
itu yang kadang bikin aku ketuker ngirain itu orang cewe/cowo. Si Game ini
ternyata Cewe! Gile, dia terlalu jantan untuk menjadi seorang cewe. Dan emang
wajar, kan? Kalo cowo agak kecewean di mari?
._.
Suatu hari, si Game keluar dari toilet cewe. Aku keceplosan,
“Hey, Game! What are you doing there?
That is for lady!”
Dia bilang, “So what?
What do you think about that, huh?” kemudiaN dia berlalu sangat cepat. Aku
terpaku. Yang lain cekikikan. Astaga, aku baru saja telah melukai hatinya.
Pernah juga ada kejadian yang aku tetap inget bareng dia,
waktu aku nyanyiin A Thaousand Years
sambil pakai sepatu, dia langsung nyamperin dan bilang, “Hey! You know thats
song?? I like it so much!”.
“Owh, Game.. I like it so much, too” jawabku dan semakin
berdendang. Haha.
Kami keliling-keliling seharian. Sampai keluar kota Bangkok.
Kami ke tempat-tempat yang keren banget. Mewah. Bangunannya keren. Aku keingat
teman-temanku yang berjurusan arsitek dan teknik sipil, wah.. mereka harus
melihat bangunan keren ini.. mbak Ijek dan Maya harus lihat ini.
Selanjutnya, waktu kami habiskan dengan berfoto-foto. Sampai
3.01 GB (file yang baru terkumpul).
Menyenangkan. Dan kuharap aku datang lagi. Dengan tujuan
yang lebih besar, dengan orang-orang yang kelak sangat berarti dalam langkah
kesuksesanku.
Hum..
Satu lagi, untuk siapa saja. Jangan pernah takut bermimpi,
aku sering mengulang kata-kata ini: tidak pernah ada yang mustahil jika Allah SWT
telah berkehendak. Ini serius. Haha. Jadi kaupikir, siapa yang bisa menolak
kehendak Allah? Tidak kamu. Tidak mamamu. Tidak bapakmu. Tidak pacarmu. tidak
siapapun.
J
Bangkok
05/09/13-05:30 AM













Komentar
Posting Komentar