Akan ada kalanya, bukan selamanya, suatu hari nanti, bukan
seharusnya kini, kau, bukan dia, memilih
untuk melindungi, bukan menjebak, seseorang yang selalu menemanimu, bukan dia
yang tak acuhkanmu. Walau mereka tidak sepenuhnya benar, bukan tak pernah salah,
tersebab kau merasa lebih mengenal dia, bukan seperti klaim dunia, kau percaya dia bisa dapatkan kesempatan, bukan kebetulan.
Akan ada kalanya, bukan selamanya, kau merasa kehidupan
orang lain lebih seru, bukan dia, segala keberhasilan yang ia capai adalah
rencana gagalmu, sekali lagi, bukan dia. Kau merasa tak berguna, bukan pasrah,
kau merasa terlambat, bukan tak berusaha, kau bingung harus mulai menenun mimpi
dari benang yang mana, kemudian kau mulai tak menjadi dirimu, bukan inginmu, kau
terlalu mengeluh, bukan membentak, kau mulai menyalahkan orang lain, bukan menuduh,
kau mulai berangan-angan, kau lupa kau dari mana dan seharusnya bagaimana untuk
siapa, juga terlalu terpuruk, kau menunggu sesuatu yang tak terlihat, bukan
tidak ada.
Akan ada kalanya, bukan selamanya, orang lain melihatmu
separuh porsi realita, bukan seutuhnya, lalu kau menjadi terlalu malas
menjelaskan, bukan tak peduli, kau merasa mampu lewati jembatan retak, bukan
terputus, kau tak mau melihat ke belakang, bukannya takut, bahkan untuk
hiraukan sebuah seru: memintamu pulang, kau lebih memilih melangkah jauh, bukan
menghindar. Lalu kau merasa muak jadikan telingamu tuli, mulutmu mengelu, kau
yakin ada kehidupan yang lebih baik di seberang jembatan, bukan, kau membaca
mimpi bukanlah khayal.
Akan ada kalanya, bukan selamanya, kau ditinggalkan tanpa permisi,
bukan sengaja, oleh beberapa orang yang
kau sayangi, juga kau harapkan. Mereka tak bisa kembali walau kau sangat ingin,
bukan mengemis, kau sadar memang takkan terjadi walau kau memaksa dan meronta,
maka tak kaulakukan. Itu adalah tahap di mana kau harus mau mengerti, bukan
telah siap, bahwa ada beberapa langkah kepergian yang tak kembali, bukan tak
ingin, karena bukan pilihan mereka untuk pergi, mereka dipilih. Lalu kau akan
merasa terdampar, bukan hilang, di pulau yang harinya hanya malam, bukan
terang, pulau yang anginnya membekukan tulang, kau tak berdaya, kau pasti lebih
memilih tenggelam bersama ikan. Kau masih mengingat janji bintang, juga bulan,
yang akan mengajakmu terbang ketika jatuh, bahkan di palung laut terdalam.
Akan ada kalanya, bukan selamanya, orang-orang baik terlihat
tak menarik, bukan munafik. Kau disakiti, diiris, di depan publik. Kau tersenyum,
bukan bahagia. Kau menerima, bukan tulus. Kau kecewa. Kau tak menyangka bisa
membenci, bukan ingin membunuh. Kau tak ingin berada dalam lingkarnya lagi, kau
berlari, bukan berjalan. Tapi kau percaya pada keadilan pencipta, bukan dendam,
bahwa akan ada ganjaran untuknya, tanpa kau yang harus melakukannya. Kau tahu
Dia tidak tidur, bukan sepertimu. Dia akan membalas entah di hadapan atau di
belakangmu, bukan seijinmu.
Akan ada kalanya, bukan selamanya, kau merindui yang telah
kau ikhlaskan, bukan sengaja, kau ingin bertemu tapi tak sempat, bukan tak
berusaha, kau ingin menyapa namun segan, bukan tak sengaja. Lalu kau memilih
mengabaikan, bukan tak peduli, kau ingin dia tahu hal-hal berkesan yang terjadi
di tiap prosesmu, kau ingin dia menyaksikan keberhasilanmu, bukan angkuh, kau
hanya ingin berproses bersama.
Dan akan ada kalanya, walau bukan selamanya, kau merasa
hidup ini lucu, bukan konyol, itu tentang kealpaanmu pada tanggungjawab yang
seharusnya, bukan terpaksa, tentang kemalangan hidupmu, bukan menyedihkan,
tentang rasamu, bukan trauma, tentang harapanmu, bukan imaji, tentang segalanya
yang telah kau lalui, sejauh ini. Kau merasa tak seharusnya kau seterpuruk
dulu, tak seharusnya seporakporanda itu, bukan hancur. Kau menikmati
kisahmu, kau menertawai tangismu, kau mencoba dan selalu tertawa ketika gagal,
bukan gila. Kau sadar hidup ini berat seberat caramu memberatkannya, bukan
karena siapapun. Kau sadar kau harus memaafkan dirimu, juga mereka. Kau mengijinkan
dirimu bersedih, bahagia, kecewa, terluka, lalu kemudian lega. Bukan karena kau
tak mengerti hidup, tapi karena kau telah hidup cukup lama untuk mengerti.
Yogyakarta
Zulfin Hariani
0112140003
Komentar
Posting Komentar