Tuhan, hari ini aku
ingin memohon sesuatu yang teramat penting padaMu. Tolong pilih saja
permohonanku yang ini untuk diutamakan, dari doa-doaku yang lainnya.
Tolong.
Aku begitu mantap atas hal ini, aku memikirkannya sejak lama
dan pergantian hari membawaku semakin mengerti dan teguh.
Ini menyoal ingatan.
***
Hari ini, aku menyadari betapa kecil, manja, dan cerewetnya
keponakan kesayanganku, Khaylila. Ia menemukan sepotong baju di dalam lemari tumpukan
pakaian lama. Adalah bajuku, yang ternyata kini pas di tubuhnya.
Khaylila, tingginya tak sampai pinggangku. Ah, aku sekecil
itu ketika menemani embah ke pasar dahulu. Di usia ketiganya ini, Khaylila begitu manja dan cerewet, khas anak kecil. Ia
sering menanyakan hal tak penting dan berulang-ulang, dia juga mudah menangis.
Baju itu dibelikan embah ketika kami berdua ke pasar. Hal
itu membuatku ingat hari bermain seharian dan masalah hidup terberat hanyalah
malas mandi sore.
“..di pasar hari itu, embah
melakukan tawar-menawar dengan pedagang baju—sampai pura-pura pergi namun
datang lagi, aku ingat”
Embahku, yang dulu begitu tangguh mengitari pasar kini hanya
menghabiskan bosan di rumah. Makan-sholat-duduk di teras-tidur, ia juga mulai
pikun—sempat tak mengenaliku bahkan. Ia kerap mengaku belum makan, padahal
sudah nambah berkali-kali. Ia mulai menanyai kabar tetangga pun sanak saudara kita
yang telah lama meninggal, kemudian menangis karenanya.
Embahku, mulai tak lincah lagi berjalan. Bangun dari duduk
susah, duduk untuk tidur susah. Ia berjalan sambil berpegangan di dinding. Ia
tak pernah lagi menyisir rambutnya di tiap pagi dan sore hari. Giginya banyak
berkurang, tersisa beberapa dan tak nyaman karena goyan-goyang.
Suatu waktu, embah pernah berniat baik ingin merebus air
untuk minum kita, namun ia lupa dan akhirnya ceret penuh berisi air mengering
di atas kompor gas. Itu pelajaran berharga, yang menjadikan dapur selalu
digembok sekarang.
“..embah, si chef
terhebat di masanya itu, kini dikuncikan pintu dapur”
Embah sama seperti Khaylila, itu mengenai apa yang tidak dan
boleh untuk dilakukan. Makan disiapkan, tak boleh “bermain” sendirian di dapur,
menangis kapan saja.
“..kata orang-orang
fase menjadi anak-anak terjadi dua kali di dalam hidup”
Tuhanku, jika Kau izinkan aku menua bersama kedua
orang tuaku kelak, izinkan aku untuk terus mencintai mereka seperti hari ini. Jika
menjadi tua adalah jalan hidup yang harus dilalui juga, maka akan ada hari
dimana keseharian kedua orang tuaku menjadi sama seperti embah.
Beberapa waktu ini, aku mengamati mama ketika tertidur,
bangun pagi untuk ke pasar, memasak, bercerita tentang hari-hari yang pernah
kulewati ketika tak di sini. Abon daging yang ia kirimkan nyaris tiap bulan
ternyata memakan banyak waktu, tenaga, dan kesabaran—aku merasakannya setelah
membuat abon tadi pagi. Dia membeli kasur kecil untuk dijadikan alas sholat di
bawah sajadahnya, itu karena lututnya terasa ngilu setiap sholat lail katanya.
diaa adalah penata rambut dan dokter dalam keluarga kami. Dia adalah bos besar.
Aku mulai membayangkan bahwa suatu hari nanti mama juga pasti akan menua
seperti embah.
Aku juga mengamati bapak. Ketika ia mengemudi, membaca
koran, menonton televisi, mengetik di depan laptop. Bapakku selalu mengajarkan
hal-hal positif yang membahagiakan. Sosok sahabat sekaligus guru besar dalam
segala aspek kehidupan. Dia rajin dan pekerja keras. Dia humoris dan pemaaf.
Aku belum menemukan lelaki yang lebih baik darinya di dunia ini. Dia adalah
bukti nyata, bahwa Allah Maha Kaya. Walau waktu bertemu bapak tak sebanyak
bersama mama tiap hari, aku membayangkan akan tiba suatu waktu di mana aku akan
sering bertemu bapak di rumah. Suatu hari nanti bapak juga pasti akan menua
seperti embah.
Tuhanku, izinkan aku untuk tidak memiliki rasa sebal karena
banyaknya pertanyaan yang mereka lontarkan seperti anak kecil di hari tua
mereka nanti. Izinkan aku untuk selalu menjawab dengan baik, selayak cara
mereka menjawab semua pertanyaan konyolku di masa kecil. Aku ingin merawat
mereka. Merapikan tempat tidur, membersihkan, menyuapi. Izinkan hatiku untuk
selalu sabar dan lapang, ketuk hatiku agar senantiasa melembut, rendahkan suaraku
agar mereka tak terkejut ketika aku berbicara.
Karena sehebat apapun aku untuk mereka, aku takkan pernah
mampu sesabar itu merawat seorang Zulfin Hariani sedari kecil hingga dapat
berpikir seperti sekarang ini.
Tuhanku, kepulanganku ke kampung halaman tahun ini begitu
kusyukuri. Alhamdulillah, terimakasih telah melahirkan aku di keluarga ini.
“...Tuhanku, izinkan aku untuk tidak lupa mengenai apa yang
aku pikirkan hari ini, untuk di hari tua kedua orang tuaku nanti”
Selong
Zulfin Hariani
123928072015
Komentar
Posting Komentar