Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakaatuh
Ada yang lihat Fifin? Dia
kemana yah? Kok kayak ngilang gitu? Ish, mana Fifin yang dulu? Mana Fifin yang
suka ngupdate blog? Mana Fifin yang idupnya ga tenang kalo kurang nulis? Mana? Mana?
Oh well..
Itu tadi suara-suara yang menghantui Cerebrum dan
Cerebellumku, bahasa gampangnya: otakku. Pas bangun tidur, pas mau tidur, pas
ngga lagi tidur, pas niat mau tidur, pas ngga mau tidur, eh, ini kok banyak
banget kata ‘tidur’nya? Duh, ketahuan, aku emang lagi ngantuk sekarang.
Mau ngeles lagi?
Nope. Aku cuman mau jujur. Cuman mau ngasitau fakta yang
sebenar-benarnya. Halah. Penting banget ga sih? Wkwk.
Sehabis magang kemarin, rencananya aku mau ‘lunasin’ hutang
nulis yang numpuk sejak berabad-abad lalu. Eh, aku lahir di abad keberapa
emangnya? Umurku uda ratusan dong? Kayak lapisan waffer tanggo. Berapa lapis? Ratusan!
Lebih!. Duh, apaan sih ini, jadi ngga fokus. Delete ngga yah? Ah, males mencet
backspace, bomat, pokoknya, malem ini harus nulis yang ngga pake mikir panjang
juga main hapus-hapusan.
Eh, seriusan makin ga fokus. Errr~
Kembali ke jalan yang benar. Yes, maafkan, ternyata, aku ngga
menepati janji untuk ‘ngelunasin’ tulisan-tulisan yang umurnya kayak lapisan
waffer tanggo tadi. Keburu lupa malah. Ckck.
Seingatku, aku hutang cerita pas KKL dan Magang. Yang lainnya lufffa. Wkwk. Kenapa
bisa lupa? Karena waktu mau mulai nulis, cerita baru dalam kehidupanku dimulai
lagi. Halah. Iya, bukanya ngurus skripsweet, pas balik ke Jogja aku malah jadi
Asisten Dosen. Aih, tuh kan. Makin banyak utang cerita. Wkwk. Iyaaa, iyaaa,
kali ini aku mau cerita tentang ngasisten dulu. Mumpung masih ingat. Halah.
Mulai dari mana yah ceritanya? Okray, kita mulai dari
tengah-tengah ajah. Kenapa? Yaa, suka-suka aku dong.
***
Senin, 21 Maret 2016. Adalah hari dimana seorang Zulfin
Hariani menjadi pengawas ujian untuk kali pertamanya, dengan status Asisten Dosen.
***
Aih, ternyata otakku ngerekuesnya untuk cerita dari awal
ajah. Wkwk. Apalah-apalah ini. Mari kita ikuti maunya si Cerebrum dan
Cerebellum ini.
Jadi gini, sepulang magang dari PTNNT kemarin—bahkan sebelum
aktifnya masa perkuliahan pasca libur semester, aku dihubungi seorang sahabat
yang juga sebagai ketua konsentrasi PR di angkatanku. Namanya Adam. Ingat Adam?
Itu lho, yang barengan di kelompok Antariksa waktu lomba di UNS, Solo. Kita
pernah bahas di postingan sebelumnya. Nah, si Adam tetiba nanya, nilai mata
kuliah Teori Komunikasi (Tekom) semester lalu, aku nilainya apa? Kebetulan,
untuk matkul itu nilaiku A. Kemudian dia bilang, dalam waktu dekat aku akan
dihubungi Ibu Muria.
Ibu Muria?
Beliau adalah dosen yang sempat mengajari kami matkul Media
Dakwah & Religi di semester awal dulu, semester 2 kalau aku ngga salah
ingat. Sekarang Fifin sudah semester berapa? Oh, semester 8 yah? Skripsi apa
kabar? Okray, kita skip dulu pertanyaan terakhir, fokus ke Bu Muria. Nah, aku
tidak terlalu memahami karakter beliau sebelumnya. Belum dekat dengannya.
Setahuku, dia memang sering mencari asisten karena rutinitasnya yang padat.
Maka, sms itu pun datang. Sms dari Ibu Muria. SMS yang menjadi titik awal
pengalaman baru dalam hidupku. Benar sekali, hari itu salju turun di Jogja, dicampur pake nutrisari rasa jambu enak lho. Halah. Skip. Fokus, fokus.
Intinya, dia meminta aku buat jadi asistennya secara
personal, berdasarkan rekomendasi dari seorang dosen yang akrab aku panggil
Mbak Anti. Ingat Mbak Anti? Itu lho, dosen yang mendampingi aku waktu ke
Chulalongkorn University di Thailand. Pernah aku bahas di postingan sebelum ini
jugah. Hehe.
Nah, aku lumayan dekat dengan Mbak Anti. Dan dia masuk di
list ‘dosen objektif’ yang matakuliahnya tidak bisa dianggap enteng. Soal-soal
ujiannya dijamin unpredictable banget. Dosen yang disiplin, multitalent,
populer, dan disegani. Menolak Mbak Anti, merupakan suatu keputusan yang
beresiko—halah. Walau begitu, aku sebenarnya ingin fokus buat skripsi di
semester ini—niatan awal. So, aku minta masukan dari orang-orang terdekat,
mereka percaya kalau aku bisa menjalankan keduanya secara baik. Aku berusaha
meyakinkan diri. Dan karena beberapa pertimbangan itu, walau aku tidak terlalu
mengenal Bu Muria, aku menyanggupi untuk menjadi asistennya di semesteri ini. Yes,
akuh mauh kitah saling memahamih lebih dalam lagih. Lagi pula, rasanya aku juga
ingin terus belajar tentang aspek-aspek di jurusanku ini, terlebih tentang
teori-teorinya. Kesempatan ini mungkin tidak datang lagi karena aku sudah di
semester akhir. Hosh!
Ada 5 kelas, yang tiap pertemuannya terdiri dari 2 sesi,
mata kuliahnya yaa itu tadi, Teori Komunikasi. Matkul ini memiliki bobot 5 sks
dan setiap pertemuannya diisi dengan kelompok-kelompok yang akan presentasi.
Itu artinya, tiap pertemuan ada 2 kelompok yang presentasi. Di tiap kelas, ada 8 kelompok, yang memiliki
jatah presentasi 2 kali, maksudnya 2 teori. Jadi, kalau ada 5 kelas, berarti
ada sekitar 40 kelompok, yang total presentasinya berarti yaa 80 kali. Mulai bingung
dengan penjelasanku? Baca ulang gih. Males? Yauda, pura-pura paham aja. Lanjut,
nah, tiap teori untuk bahan presentasi adalah (termasuk) kewajibanku memberikan
pemahaman kepada mereka. Sebenarnya, ini agak rumit, karena aku sendiri harus
membuka buku-buku lama dan mereview catatan tempoe doeloe. Mata kuliah ini,
bahan ajarnya full english, so, untuk paham, biasanya aku translate dulu. Yaa
tau sendirilah, bahasa inggris versi buku teori itu ngga sama kayak bahasa
inggris percakapan sehari-hari. Iykwim.
Hal lucu yang terjadi adalah, 2 minggu pertama jadi asdos,
aku sakit. Wkwk. Biasalah, batuk-pilek-demam. Itu beneran ngga enak banget.
Ngejelasin materi dikit, batuk. Ngomong dikit, bersin. Duduk bentar, pening. Bawaannya sensitif muluk pokoknya. Haha. Walau begitu, aku tetap ke kampus dan tidak mengenal hari libur. Yups,
aku menyebarkan virusku ke mana-mana. Syalalala. Tambah lucu lagi, 3 hari
setelahnya Bu Muria juga ikutan sakit. Persis seperti aku, batuk-pilek-demam. Okray,
ini mulai terdengar ngga lucu. Aku merasa agak bersalah, apa itu virus dari aku
yah? Duh, asdos macam apa aku ini. So that, kelas diliburkan selama 2 hari,
tapi konsul jalan terus. Untuk jadwal kuliah pengganti, agak ribet karena
betapa susahnya mencari ruangan yang ternyata penuh semua. Hedeh. Betapa
kemudian aku sadar, menjadi asdos, tidak pernah semudah apa yang aku pikirkan.
Terlepas dari jadwal kuliah dan jadwal konsul informal untuk 40 kelompok tadi,
segala kewajiban dosen harus siap aku back up. Atur jadwal, nyari ruangan untuk
kelas pengganti, ngajar, bawa absensi, bawa kunci kelas, bawa kertas ujian,
ngawas ujian, mengkoordinir mahasiswa-mahasiswa, dst dst. That’s why, aku setiap
hari nyaris di kampus. Beberapa mahasiswa malah ngejar-ngejar aku untuk konsul
sampe kosan. Kadang kita diskusi sampai jam 11 malam. Aku sih ngga keberatan. Tahu
kalau ternyata penjelasanku bisa dipahami dengan baik sama mereka, rasanya
bahagia banget. Wow, ternyata sumber rasa bahagia Allah ciptakan bisa dari mana
saja yah? Aku sendiri suka lupa waktu, ntar tetiba pas semuanya uda kelar aja
baru ngerasa capek yang hebat, tidur deh langsung kayak Putri Tidur. Hehe.
Minimal, seenggaknya, setidaknya, aku juga jadi paham
bagaimana rasanya diteror dengan sms/telepon/line/wa/bbm, setiap hari. Setiap waktu.
Setiap saat. Ngga lagi di kelas lain, lagi makan, mau nyuci, mau mandi, lagi
jalan-jalan. Dan lagi-lagi-lagi lainnya. Persis seperti dosen-dosen yang
membimbing skripsi, kayaknya. Bahasa mereka ada yang formal banget, sampe tidak
ada satu kata pun yang disingkat. Ada juga yang frontal. Ada yang ngga nyebutin
nama. Ada yang photo profilnya cowo tapi ternyata dianya cewe. Gitu deh. Seketika Lineku
diadd ratusan nomor. Seketika batre si Hikari gampang ngedrop. Seketika paket
data jadi lola. Seketika aku jarang update blog.
Ketika orang-orang pada buat PM atau status ‘hape sepi’,
rasanya pingin banget aku saranin buat jadi Asdos aja. Apalagi orang-orang yang
bilang kalo mereka lagi kesepian, ga ada temen chating, atau bingung mau
ngapain hari ini. Rasanya pingin bawa dia ke Bu Muria dan bilang, “Bu, masih
butuh asisten ngga? Saya menemukan orang yang cocok.”.
Bukan, aku bukannya ngeluh. Serius. I enjoyed this so much. I
love my job. Muah!
Cuman, sometimes, dengan segala rutinitas keramaian seperti
ini. Kok aku ngerasa kesepian yah? Aku sekarang bergaulnya sama anak-anak
semester awal. Kemana temen-temenku yang sejak dari Mataf ataupun ngubek-ubek
organisasi dulu? Aku sadar, mereka masih ada di orbit masing-masing. Cuman,
orbitku yang mulai senakal Pluto. Ngga mudah untuk ngobrol lama sama mereka
lagi. Apa tahap yang harus dilalui oleh mahasiswa semester akhir kayak aku
gini, emang harus nyampe di fase eliminasi kerabat-kerabat seperjuangan? Duh. Jadi
baper kan. Okray, memang orbitku yang nakal. Aku yang memilih. Bukan salah mereka.
Bahkan teman-teman kosku mulai pergi satu per satu. Kok jadi
lanjut baper? Bomatlah. Iya tuh, Mbasin uda dapet kerja dan netap di Solo—aku dikabarin
pas masih magang kemarin. Si Risko pun uda wisudaan dan lagi di Pare sekarang. Di
kos banyak anak barunya. Jadi semacam ada garis yang membuat jarak antara anak ‘lama’
dan anak ‘baru’. Aku yaa tetap dengan anak-anak lama. Mbak Vina, Kumekume,
Fenty, Yayuk, Anggita—anak baru yang uda lama. Pun aku juga jarang di kosan,
lebih dari setengah hidupku ada di kampus. Berangkat pagi, pas mereka pada
belum bangun—dasar deh mereka, anak-anak semester tua. Balik pas mau makan
malam. Paling sebelum tidur baru ngobrol-ngobrol. Atau kalo ngga pas hari libur
gitu barengnya.
Duh, usaikan kebaperan ini.
Lanjut ke cerita ngasisten.
Apa aku memang sesibuk itu?
Ah, ngga juga kok. Buktinya kalo aku emang niat mau ngapain
gitu, pasti tetap bisa nyempat-nyempatin. Sering juga dinner bareng Omen. Ngasi bunga ke temen-teman yang habis ujian Skripsi. Kemarin
sempat ngeskrim sama anak-anak Fospast yang di Jogja. Sempat juga tuh nyanmor
di hari Ahad. Eh, tadi ke Pantai juga sama Tian & Aziz. Sempat karaokean
juga malah kemarinnya lagi. Wow, betapa angka-angka yang berwarna merah di
kalender sangat berarti, kini.
Ingat? Kalau aku punya memori jangka pendek? Ah, perlahan
aku mulai menolak label itu. Kenapa? Karena belakangan ini aku sadar, ngga
susah kok buat mengingat. Segala aktivitasku terdahulu, walaupun ngga mungkin
terulang lagi, ternyata selalu relevan dengan aktivitas-aktivitasku di tahap
selanjutnya. Yaa, semacam siklus dejavu. Aku ingat hari-hari ketika aku di
semester awal perkuliahan. Aku selalu bangun lebih pagi untuk berdandan yang
rapi. Persis seperti mahasiswa-mahasiswa di tiap kelasku sekarang. Ada yang
bilang kalau mau ngebedain mahasiswa lama dan baru, bisa dilihat dari
penampilannya. Kalau yang cewe, lihat dari sebanyak apa jarum pentul di
jilbabnya. Jika semakin banyak, maka semakin besar kemungkinan dia mahasiswa
baru. Apalagi kalau dia wangi dan rapi, langsung ketebak deh. Pun yang cowo, lihat
dari sebesar apa tasnya. Semakin kecil, maka semakin besar kemungkinan dia
mahasiswa semester akhir. Apalagi kalau udah jarang pakai kemeja atau rambutnya
semi gondrong, langsung ketebak emang. Aku ingat, awal semester, aku rajin banget. Catatan
rapi. Judul, sub judul, penjelasan, beda warna pulpennya. Ngga ada coretan.Suka ngerangkum juga tiap mau UTS atau UAS. Tiap
kelar semester malah aku jilid. Eh, pas uda semester akhir? Catatan jadi
minimalis. Tulisannya kadang kecil banget sampe ada yang kayak tulisan dokter, kadang
gede banget juga dengan tanda panah kemana-mana. Aku perhatiin juga, absensi mahasiswa baru selalu full,
datang on time bahkan beberapa menit sebelum kelas mulai. Mahasiswa lama? Beuh! Bener-bener
manfaatin jatah bolos, kalau datang ke kelas pun ngukurnya pakai ‘toleransi
waktu telat’. Yes, aku menemukan perbandingan itu setelah menghadapi
mahasiswa-mahasiswa di kelasku. Wow, flashback memang ampuh buat seorang Fifin
senyum-senyum sendiri.
Terimakasih banyak, Bu Muria. Kau tak hanya membentukku
sebagai seorang Asdos. Sungguh aku belajar banyak hal. Hiks.
Well, besok Sabtu. Ngga ada jadwal kelas Bu Muria. Tapi aku
ada jadwal rapat rutinan Kumis. Itu lho, Komunitas Menulis yang aku ikuti dari
semester awal. Yes, aku masih aktif nulis juga di Koran Joglosemar, di edisi
Akademia. Baru aja aku ngirim foto buat pembaharuan id pers, aih, kami
juga lagi ngerancang novel lho. Buku ketigaku bareng Kumis Inshaa Allah bakal
terbit. Doain lancar yah! Habis rapat Kumis, ada 5 kelompok yang mau konsul
buat presentasi Minggu depan. Ohiya, minggu depan mungkin minggu terpadat
selama aku ngasdos. Haha. Jadi ceritanya, minggu ini kan jadwalnya mereka Uji Kompetensi
pertama, minggu depan lusa udah Uji Kompetensi kedua aja. Kebijakan Bu Muria
tuh. Minggu depan jadinya ngebut materi, lebih ribet lagi karena ruang kelas
bakal ngga sesuai jadwal sebelumnya. Yaa karena lagi pada UTS sebenernya,
matkul dengan bobot 5 sks mana bisa UTS bareng. Jadilah ngatur jadwal mereka
sebagai kelas pengganti—kalaukalau kebentur jadwal UTS, pun nyari ruangan lain—kalaukalau
ruangan kita dipakai buat UTS. Gitu deh. Ohiya, nyari ruangan kelas ngga
segampang ngunyang permen karet yah. Jurusanku lagi banyak-banyaknya nampung
mahasiswa, jadwalnya padet. Kemaren aja—pas ngurus kelas pengganti waktu Bu
Muria sakit pun akunya juga sakit, sempat berpolemik buat dapet ruangan. Jadi ceritanya, akhirnya aku uda dapet ruangan gitu, uda fixed. Eh pas H-1 sorenya, Mbak Siti
(Admin/operator jurusan) ngabarin kalo ternyata udah ada yang ngebooking
ruangan itu sebelumnya, cuman surat minjem ruangannya nyusul. Kebutuhannya juga
lebih penting, untuk nyambut tamu dari UI. Gurbak. Gitu deh.
Aiiiiih, ga nyangka akhirnya aku bisa nulis segini panjang lagi. Lumayanlah
yaah. Lumayan ga jelas maksudnya. Wkwk. Pikiranku lagi mumet soalnya, rasa-rasanya yaa
obatnya itu kalo ngga tidur, denger musik, yaa aku kudu nulis. Kayak gini. Aku uda
denger musik nyaris tiap waktu, tidur pun selalu cukup, ga berani begadang,
harus tetap fit soalnya. Tinggal nulis macem gini nih yang moga aja bisa ringanin
otak seringan gelembung-gelembung sabun. Ah, analogi macam apa ini?
Mungkin ada banyak typo di tulisan ini. Aku perbaikin besok
aja yah. Uda malem nih. Mau bobo unyu duyu. Wkwk.
Akhir kata, wabillahi taufik wal hidayah.
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh
Yogyakarta
Zulfin Hariani
260320160142

Komentar
Posting Komentar