Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh
Yeay! Kemarin, Senin 28 Maret 2016.
Eresa, salah seorang sahabatku waktu masih di Pare dulu
berkunjung ke Jogja. Eh, tepatnya dia datang 2 hari yang lalu sih. Baru sempat
meet up kemaren maksudnya.
“Mba Fifin di mana? Aku di kantor DPM” begitu isi BBMnya
ketika aku tengah makan siang di Olive. Hari ini aku ngasdos 2 kelas aja.
Lumayan cepet, ngga sampe sore. Rencananya, aku emang mau ke kampus lagi. Mau
memindahtangankan buku bendahara ke anggota Kumis (Komunitas Menulis) yang
baru. Dan juga, rencananya sekitar jam 16:30 hari ini ada kelompok mahasiswa
yang mau konsultasi.
Kupercepat suapan demi suapan, makan siang kali ini rasanya
bahagia. Haha. Sudah lama sekali rasanya tidak ketemu sama si Eresa ini.
Sebulan sebelum magang, kali terakhir kita ketemu, di perpisahan dalam tangis meninggalkan Pare. Halah. Intinya, setelah memindahtangankan buku bendahara,
aku langsung cus ke kantor DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) untuk menemui Eresa.
Dia makin chubby. Haha. Hal tak terduga pertama adalah, kita
sama-sama pakai jilbab merah marun. Mungkin terdegar biasa aja, tapi, aku
adalah tipikal orang yang suka merhatiin orang-orang yang menggunakan warna
senada dengan apa yang aku pakai. Dulu, sering, aku menemukan Titin pakai warna
baju atau jilbab yang sama denganku di kelas. seringnya sih oranye. Entah siapa yang lebih dulu
memutuskan untuk memakai warna itu. Pun demikian dengan Bu Muria, sering aku
temukan kita memakai warna jilbab atau baju yang sama ketika memasuki kelas. Aku juga sering mengamati seiisi kelas, tepatnya fokus ke jilbab/baju yang digunakan orang-orang
di dalam ruangan itu sih. Hehe. Yang menyerupaiku pasti lebih kuperhatikan. Gimana yaa,
rasanya itu semacam kita punya 'something connected’ gitu. Wkwk.
Si Eresa uda makan siang ketika aku tanyai, lalu kuajak dia
mengelilingi sebagian kecil Jogja di sekitar Bantul, menuju 0 km. Aku ajak
melihat-lihat di Jolie, hingga kita beli jilbab bareng di toko jilbab
langgananku. Sempat berkirim pesan juga ke Iik dan beberapa teman di Pare dulu.
‘Kapan giliran kalian ke Jogja?’, entah, rasanya bahagia sekali, bertemu dengan
orang-orang yang pernah kau tangisi dalam salam perpisahan tanpa memiliki
kepastian untuk dapat bertemu, entah kapan nanti.
"Mbak Fifin masih main game 2048 itu?" tanya Eresa sewaktu kita menyesap sup buah di Omah Lodhong. Aku heran, apa aku udah selama itu yah betah main game 2048? Sudah aku update beberapa kali sih, sekarang lagi main yang 8x8. Hehe. Ini bocah, ingat aja kebiasaan gueh. Haha.
Apa yang aku pikirkan sekarang?
Adalah betapa Tuhan sungguh bisa menghibur hambanya. Aku baru
sadar, betapa belakangan ini aku menjadi tidak peka. Bahwa ternyata aku punya banyak orang yang menyayangiku—bahkan
ketika aku tidak tahu, dan tetap merasa sendiri. Aku jadi ingat, kemarin
juga, ketika aku mau ke kampus dan belum sempat sarapan. Ku putuskan untuk
membeli nasi padang di lingkungan sekitar kosan. Waktu itu, aku minta sendok
plastik ke ibunya. Soalnya aku mau makan sambil rapat. Hehe.
“Bu, ada sendok plastik ngga?”
“Ngga ada e mbak, adanya sendok besi aja. Mau po? Pakai aja
dulu. Kapan-kapan bisa dibalikin.”
Jadi, waktu itu aku beli nasi telur dan tempe goreng, lagi
bokek. Nah, yang buat aku tertegun adalah, betapa ibu ini sungguh baik hati dan
percaya padaku. Hiks. Terharu. Harga sendok besi berapa sih? Si ibu ngga takut
rugi gitu kalo aku ngga balikin sendoknya? Lumayan lho.
“Beneran, Bu?”
“Iya e, Mbak. Di sini ada banyak sendok besi kok. Kosnya dekat
sini juga kan? Gapapa kok, Mbak. Bawa aja.”
Maka, aku bawa sendoknya. Walau setelah makan di kampus,
temen-temen pada bilang,
“Mbak Fifin bawa sendok sendiri dari kosan?”
Well, I wanna take some breath right now. Kalau kata Mario
Teguh sih, orang yang gampang mengeluh itu yaa mereka yang ga pinter bersyukur.
Aku jadi mikir, apa aku uda masuk tahap ngeluh yah? Duh, untuk ngeluh aja aku
ngga sadar cobak. Yang jelas, aku uda masuk tahap ngga pinter bersyukur. Seharusnya
aku ingat, kegiatan yang meribetkan kehidupanku sekarang itu bukanlah hal yang
nyusahin. Justru sebaliknya, kalo aku nikmatin dan jalanin dengan
sebaik-baiknya, mesti ada hari di mana aku ngerasa bangga pernah ngelewatin
step ini. Inshaa Allah.
So, give thank’s to Allah. Alhamdulillah, seorang Fifin
sampai di tahap ini. Alhamdulillah bisa bertemu dengan orang-orang yang
berpengaruh hingga hari ini dalam hidup seorang Fifin. Alhamdulillah pernah
dikasi kesempatan buat ngelewatin tahap mager, males, ngebetein semua orang,
galau, bimbang, ragu, letih, lemah, lesu, lunglai, uda kayak orang anemia gitu deh.
Wkwk.
..betapa pikiran positif ternyata dapat menyehatkan jasmani
dan rohani.
Wassalaam
Perpustakaan Kota Yogyakarta
Zulfin Hariani
290320161522

Komentar
Posting Komentar