Untuk kau, seseorang
yang merasa kesepian di luar sana.
Mereka mungkin memandangmu sebagai pribadi yang memiliki
banyak kenalan. Beberapa kerabat dari bidang yang kau geluti, orang-orang yang
bersamamu di rutinitas tempat kerja, tetangga di tempat tinggal, wajah-wajah
sumringah di foto acara reuni, sapaan ketika berpapasan di jalan..
Mereka mungkin
melihatmu sebagai seseorang yang pantas dikagumi banyak orang. Selalu ada orang
lain yang menginginkan posisimu. Selalu ada orang yang seharusnya menjadi
alasanmu untuk lebih bersyukur. Di mata beberapa orang, kau begitu hebat.
Walau begitu, ada hal yang luput dari pandang mereka. Selalu
begitu.
Aku tahu, rasa ramai yang kau rasa tidak pernah benar-benar
nyata.
Kepada kau, seseorang
yang merasa kesepian di luar sana.
Mudah bagimu menyelesaikan banyak hal sendirian. Apa yang
kau pilih untuk jalani dalam hidup ini, adalah putusanmu. Kau merasa mampu
berpikir sendiri, melakukan apapun sendiri, keluar sendiri, menghabiskan waktu
hanya sendiri.
Kau paham seharusnya tak baik sendiri. Kau coba terlibat dan
mencari orang-orang terdekat, lalu mencoba merencanakan sesuatu bersama. Kau mencoba
melawan ego. Setidaknya, jika selama ini kau berdiam di dalam sepi, kau mau
mencoba untuk setidaknya, terjebak—sesuai rencanamu, yaa kau suka menjebak
dirimu seperti ini— dalam ‘diam’ di tengah keramaian.
Jauh di dalam hatimu, kau ingin menceritakan banyak hal. Kau
ingin memiliki seseorang sebagai tempatmu mengeluhkesahkan pahitnya
penolakan-penolakan dalam hidup ini. Kau ditolak ambisimu, ditolak orang-orang
yang—kau anggap—susah mengerti, ditolak rutinitas, bahkan ditolak dirimu
sendiri. Kau ingin seseorang tahu apa yang telah kau lalui, apa yang telah kau
capai, apa yang kau lewatkan. Kau ingin, tapi kau juga sulit melakukannya.
Walau begitu, kau tidak marah, kau tetap coba menjadi
seseorang yang menyenangkan untuk orang lain. Selalu begitu.
Aku tahu, tidak menjadi diri sendiri itu sungguh
menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi ketika kau bahkan tak tahu siapa dirimu
sendiri.
Kepada kau, seseorang
yang merasa kesepian di luar sana.
Luka memar di hatimu, kau bingung bagaimana cara
menghilangkan birunya. Kau tak melihatnya, siapapun juga tidak. Tapi kau selalu
merasakannya. Ada dera yang kau tahan terus menerus, tentang dia yang pernah
mengisi hati kemudian pergi. Kau merasa hilang. Kau tidak sadar jarak membuatmu
benar-benar jauh. Kau tidak menduga, diam membuatmu benar-benar hilang. Kau
hanya kemudian tersadar, telah sendirian.
Orang-orang mungkin mengira kau terlampau serius. Ambisius.
Melakukan yang kau suka terus-menerus. Padahal, kau juga pandai bercanda.
Tertawa bersama, menurutmu bukanlah hal yang buruk. Kau pernah melakukannya,
pun menjadi dalangnya. Mereka mengira kunci kotak tawa kalian berbeda. Padahal,
cukup dengan membaca buku atau menonton film biasa saja, juga—pernah—mampu
membuatmu terkekeh seharian.
Kau berusaha merasa nyaman, dengan pembahasan yang tidak kau
mengerti. Mereka tertawa di sekitarmu, kau ikut terlihat bahagia. Mereka mengajakmu
makan bersama, kau lakukan walau belum lapar. Mereka meminta untuk ditemani dan
dibantu ini-itu, selama tak mengganggu waktumu dan malas akan perdebatan, kau
lakukan saja semuanya.
Mereka, orang-orang yang pernah melihatmu ‘hebat’, kau pikir—justru—tidak
akan pernah siap. Untuk kau bagikan kisah. Kau pernah sesekali mencoba, tapi
hasilnya selalu sama. Pantulan dari mata mereka, mengatakan bahwa mereka hanya
ingin tahu saja. Tak lebih. Walau kau tak berharap lebih, tapi, itu terasa tak
nyaman.
Walau begitu, kau biarkan mereka dengan pikiran mereka saja,
hanya begitu, kau tidak ingin mengusik. Karena tetap, dari sekian banyak
langkah yang kau coba ambil, ada lebih banyak langkah yang berhasil kau tahan.
Ada keinginan lain yang tak pernah sampai.
Aku tahu, kau lebih hebat dari yang terlihat, sekaligus
tidak sehebat yang terlihat.
Dan, kepada kau,
seseorang yang merasa kesepian di luar sana.
Aku hanya ingin sampaikan, bahwa; kau juga manusia. Tak apa
jika kau pernah mengalami kegagalan. Tak apa jika kau melakukan kesalahan. Tak
apa jika kau ingin sendirian saja. Tak apa merasa terpuruk. Tak apa menangis. Tak
apa tetap melakukan hal yang kau anggap paling benar. Tak apa untuk berharap
pada ketidakpastian. Tak apa kau tidak bisa seperti seseorang yang kau kagumi.
Tak apa malas-malasan seharian. Tak apa begadang semalam suntuk. Tak apa.
Sungguh tak apa. Lakukan saja semaumu. Toh ternyata, satu-satunya orang yang
terus-menerus memikirkan hal itu hanyalah dirimu sendiri. Toh ternyata,
satu-satunya orang yang bisa mengubah itu hanyalah dirimu sendiri. Kamu tidak
harus menjadi sempurna.
Ada fase di mana tak satupun dari mereka yang tahu. Ketika
kau kehilangan semangat dan berniat mundur saja. Menyerah dan lepas tanggung jawab
atas pilihan yang kau buat sendiri. Ada fase dimana kau bukan lagi seseorang
yang hebat. Kau pesimis akan hidup dan melakukan banyak kesalahan. Kau terlalu
sering menyesal. Kau terlalu malu untuk meminta maaf terus-terusan. Kau jatuh
dan dihadapkan dengan kenyataan bahwa orang-orang yang pernah ada dalam
lingkarmu tengah menaikkan derajat hidup mereka. Mencetak prestasi, memperoleh
pencapaian baru dalam hidupnya, berada di posisi yang kau dambakan bisa secara
instan. Kau menjadi terlalu banyak berandai-andai. Kau merasa ditinggalkan. Kau
merasa dikhianati habis-habisan.
Walau begitu, kau juga turut bahagia, tulus malah. Ah,
hatimu memang sesulit itu untuk dipahami.
Maka yang aku tahu, tidak mudah menjadi sepertimu. Tidak mudah
menjadi seseorang yang kesepian.
Taman Batu FISIPOL, UMY
Zulfin Hariani
270520161945
uhuih, kata-kata yang bagus, butuh pencernaan yang baik untuk memahami arti tiap kalimatnya :D
BalasHapusaih, tumben mampir lagi mbak :p
BalasHapuspencernaan yang baik? makanya, minum yaku*lt tiap hari mbak, cintai ususmu :'3
ahahaha aku kan fans tulisan-tulisanmu, Mbaa :p
BalasHapusetapi di aku ngga pernah mampir ya? :(
nyahaha
Hapusmampir juga lho akuh, update makanya buruan itu tahun 2016 banyak sarang laba-labanyaa xD