..padahal, menyerah itu mudah.
Iya, kalau aku pikir-pikir lagi, aku bisa memilih tidak bersusahpayah
akan sesuatu. Aku bisa memilih tidak mencoba lebih jauh akan sesuatu. Aku bisa memilih tidak memaksakan diri akan
sesuatu. Ya, menyerah itu mudah.
Aku hanya perlu duduk diam, tiduran seharian, makan apa
saja, mendengar musik seharian, menghabiskan waktu dengan gadget, dan banyak lagi untuk tidak memperjuangkan sesuatu. Aku bisa
saja menyerah. Aku bisa saja, ah tentu saja.
Apa sih yang sulit dari menyerah? Yang kau butuhkan hanya ‘berhenti’.
Merelakan. Melupakan. Pun itu adalah tindak yang hemat akan energi. Tidak perlu merasa capai, tidak usah merasa
tertekan, tidak sampai merasa berdarah atas luka yang kasat mata.
Iya, padahal menyerah
semudah itu.
Tapi, mengapa aku tetap seperti ini?
Aku memilih untuk rela bersusahpayah untuk mendapatkan yang
aku mau. Aku ingin mencoba lebih jauh, hanya untuk melihat sejauh mana apa yang
bisa aku lakukan. Aku kadang memaksa, yas,
I try to break my limit. Dan tentu
saja, aku tidak tahu mengapa kata-kata ‘menyerah’ mampu begitu menggangguku.
Aku gelisah ketika hanya duduk diam sementara orang lain tak
henti melangkah. Setiap berniat untuk tidur seharian, makan sebanyak mungkin
atau bahkan tak makan sama sekali, lalu memutar playlist yang sama dan memainkan gadget hingga batrai habis, aku merasa seharusnya aku tengah
memperjuangkan sesuatu yang lebih menguntungkan masa depanku kelak. Aku sadar
sepenuhnya, bahwa tak satupun yang mengharuskanku untuk tidak menyerah, tentu, aku
boleh meyerah kapan saja semauku-semampuku-sebisaku. Tapi, entah mengapa,
rasanya terlalu pengecut untuk menyerah semudah itu.
Menyerah memang tidak sulit, walau aku percaya tak ada orang yang sejak awal terlahir sebagai
loser. Kemudian setelah aku
pikir-pikir lebih jauh lagi, mungkin menyerah itu adalah pilihan. Sama seperti
tidak menyerah juga sebuah pilihan. Hanya saja, menyerah adalah pilihan yang
terlalu mudah, maka tidak menyerah adalah pilihan yang satu tingkat di atasnya:
mudah. Terlalu mudah dan mudah, lalu, mengapa harus memilih sesuatu yang ‘terlalu’
jika yang ‘mudah’ saja masih memungkinkan? Mudah bukan berarti pasti berhasil,
itu mengapa levelnya tidak menjadi ‘sulit’ saja. Mudah artinya membiarkan diri
mengalir, tidak berhenti, tidak merelakan, tidak melupakan. Mengalir tidak
membuatmu kehilangan energi, mengalir mungkin membuatmu capai, tapi itu tidak
membuatmu melemah, kau justru menguat. Tidak menyerah mungkin membuatmu
merasakan tekanan yang hebat, luka yang memarnya seolah permanen di sekujur
tubuhmu, kau hanya perlu percaya dapat meredamnya dengan kekuatan pikiran,
pikiranmu akan menenangkan. Ya, kau semampu pun setidakmampu sesuai apa yang
kekuatan pikiranmu bisa sampaikan. Hey, itu tidak sulit kan? Ini mudah, walau
tidak terlalu mudah.
Sayangnya, hidup tidak melulu menyoal menyerah ataupun tidak.
Terkadang, keadaan juga mengambil andil atas hal itu. Ya, aku juga menyadari
hal ini. Ada orang-orang di luar sana, yang seperti aku namun justru dipaksa
menyerah oleh keadaan. Sekuat apapun ingin untuk mencoba tidak menyerah di sana,
keadaan selalu punya jurusnya sendiri untuk menundukkan. Tapi, hey, sekali
lagi, ini tidak sulit. Percayalah. Katakan pada alam bawah sadarmu untuk
membentuk kekuatan pikiran lebih kuat lagi. Katakan padanya, wujud lain dari
tidak menyerah adalah mencoba lagi untuk mempertaruhkan kemungkinan lain. Sehingga
perjuangan masih bisa hidup di tempat yang sama, walau dengan cara yang
berbeda.
Karena untuk urusan pencapaian, itu hanya menyoal waktu.
Ya, akan tiba waktunya. Suatu hari nanti, kau akan menyadari
telah mengambil keputusan yang benar ataupun sebaliknya. Suatu hari nanti, kau
akan menghidupi kehidupanmu sendiri. Dan bagaimana hal itu akan terjadi suatu
hari nanti, tidak terlepas dari pilihan yang kamu ambil sekarang.
: menyerah atau tidak.
...walau, menyerah itu (terlalu) mudah
Kamar 15A KPW
Zulfin Hariani
1111161557

What will you do when you give up?
BalasHapusmengingat lagi alasan mengapa aku ingin memperjuangkannya dulu.
Hapusolehnya--sebelum melupa, ketika aku nyaris menyerah, kutuliskan dulu alasan mengapa aku berjuang.
alasan mengapa aku memilih untuk tidak menyerah saja walau ternyata menyerah itu mudah.
serasa ditendang.
BalasHapusApakah goal?
Hapus