Jadi, perpisahan itu harus
menyakitkan ya?
Sebuah tanya yang aku simpulkan setelah berbincang panjang
dengan sahabat semalaman. Dia bercerita tentang betapa melupa itu tidak
mudah, terlebih atas kehadiran seseorang yang pernah mengisi palung di hatinya.
Terlalu dalam. Hingga jadikan hidupnya tidak seimbang, menjadikan hari-harinya
menghitam perlahan.
Awalnya, mereka bertemu dan berkomitmen dengan begitu sopan.
Menjalin hubungan begitu baik, hingga berpisah tanpa meninggalkan kebencian.
Padahal detik, hari, bulan, tahun, sudah banyak berlalu. Tapi kosong yang
pernah ada tak kunjung menjadi biasa. Memori lama selalu memiliki celah, untuk
mengunjungi beberapa ingatan yang bahkan mampu mendorongnya bertindak tak
biasa.
Jadi, perlukah? Suatu
yang menyakitkan hadir, sebagai pemisah yang mudah merenggangkan simpulan hati?
Untuk dia, benar-benar
perlukah? Sebuah perpisahan yang menyakitkan demi kebaikan jangka panjang?
Cukup masuk akal sebenarnya, karena ketika yang telah lalu
memang baik-baik saja, kita tidak punya cukup alasan untuk benar-benar
melepaskan. Ya, cukup masuk akal, karena ketika memilih untuk hanya tinggal,
kita tidak pernah benar-benar tahu kepastian atas batas kemampuan diri dalam bertahan
lebih lama dari sebelumnya. Harapan selalu tumbuh subur dalam ketidakpastian,
dan itu cukup menyakitkan.
Atau, haruskah menjadi
secangkir kopi saja?
Terlihat sama walau dalam cangkir yang berbeda. Walau tidak
ada yang benar-benar tahu sehebat apa lidah mampu menoleransi pahitnya. Tidak
ada yang benar-benar mampu menyelami rasanya hanya melalui aroma uap. Sebanyak
apapun gula kau tambahkan, yang terlihat tetap hitam. Rasa yang membedakan.
Ya, haruskah menjadi
secangkir kopi saja?
Kita tidak pernah tahu sehitam apa secangkir kopi menelah
perpisahan. Kita tidak pernah tahu sepahit apa rasa yang mampu hadir di jeda
sesapannya. Bincang dalam hitam dengan rasa yang beragam. Ada pemahaman yang
terbentuk di selanya. Karena tidak pernah ada yang benar-benar tahu, selarut
apa kafein mampu membuatmu terjaga dalam kesendirian.
Aula Baca UMY
Zulfin Hariani
281120161622
"Karena tidak pernah ada yang benar-benar tahu, selarut apa kafein mampu membuatmu terjaga dalam kesendirian." (y) (y) (y)
BalasHapusIni siapa kok pake Anonim segalak ._.
Hapusis me :D
BalasHapusoh ya? where have you been?
Hapusend of the world,, :v
BalasHapusyou still 'lay'
Hapus:P
BalasHapus