Are you okay?
Ketika aku bertanya ‘apakah kamu baik-baik saja?’, bukan
selalu berarti aku benar-benar tidak tahu bagaimana keadaanmu.
Ketika aku bertanya ‘apakah kamu baik-baik saja?’, bukan
selalu berarti aku benar-benar ingin kamu menceritakan apa yang terjadi, sedari
awal hingga akhir.
Ketika aku bertanya ‘apakah kamu baik-baik saja?’, adalah
kalimat yang aku pilih untuk mewakilkan kepedulianku. Tentang bagaimana aku
percaya bahwa kamu dapat mengendalikan diri atas situasi yang tengah kamu
hadapi.
Aku ingin memastikan, apakah kamu bisa mengendalikan dirimu
sendiri. Aku percaya kamu punya cara sendiri menyetabilkan egomu. Ya, kamu bisa
menghadapi dirimu sendiri.
Bukan. Bukannya pertanyaan ‘apakah kamu baik-baik saja?’
merupakan wujud kekakuanku. Dan bukan pula basa-basi yang kupilih atas
ketidakpahaman, yang bisa saja membuat kamu atau orang lain berpikir, “pertanyaan macam apa ini?”.
Aku hanya tengah terjebak bingung, tentang bagaimana seharusnya cara menunjukkan kepedulianku padamu. So yeah tanya itulah yang (kupikir—sepertinya) bisa mewakilkan pun untuk memulai
apa yang ingin aku sampaikan padamu. Aku mungkin akan bertanya seperti itu
ketika kamu terkena musibah, ketika kamu selesai menangis, ketika kamu patah
hati, ketika kamu merasa kalah, atau mungkin ketika kamu merasa kehilangan
sekaligus kesepian.
Hey, my friend. Are
you okay?
Apakah kamu baik-baik saja?
Karena jika kamu ingin tahu, sebenarnya, entah kamu akan
menjawab ‘aku baik-baik saja’, pun sebaliknya, aku akan tetap mengawasimu. Memperhatikan
tingkahmu, menjadi teman yang siap kapan saja untuk kamu bersandar.
Sekalipun kamu mewujudkan mampu menekan ego dengan berkata ‘I am fine’, aku tidak serta-merta
meninggalkanmu. Aku percaya kamu telah menahan banyak tekanan batin. Aku ingin
membantu meringankan. Aku hanya sedang mencoba.
Atau jika kamu menjawab ‘I
am not okay’, aku tetap percaya bahwa kamu telah melakukan yang terbaik
yang kamu bisa. Kamu hanya tengah mencoba sembuh lebih cepat. Aku tahu kamu
sudah lelah cukup lama.
Atau bahkan, jika kamu tidak menjawab sama sekali. Kamu (mungkin)
hanya mendengar aku bertanya, ‘are you
okay?’. Ya, kamu memilih diam. Tak apa, aku paham kita terkadang tidak butuh
bahasa verbal. Diam juga adalah bahasa. Dan sebenarnya, aku akan tetap bertanya
walau tahu kamu tidak akan menjawab. Hanya untuk memastikan, kamu masih bisa
mendengar bahwa aku ada di sana. Bahwa kamu tidak sendiri.
Tidak banyak orang berpikir jauh atas tanya, ‘apakah kamu
baik-baik saja?’. Padahal, siapa yang tahu jika di balik pertanyaan sesingkat
itu terdapat pertimbangan-pertimbangan atas nama kepedulian? Sama seperti apa
yang aku lakukan, dan seperti yang aku pikir orang lakukan ketika bertanya
demikian.
Nyatanya, dalam sudut pandangku, pertanyaan ‘apakah kamu
baik-baik saja?’bukanlah pertanyaan yang sederhana. Tidak pernah sesederhana
itu. Maka, terimakasih kuucapkan padamu, seseorang yang bertanya ‘are you okay?’ bahkan ketika aku tidak
tahu. It means a lot!
Perpustakaan Kota Yogyakarta
Zulfin Hariani
141220161739

are you okay? :D
BalasHapusYes, I am. Thank you.
Hapus