It’s 03:55 AM, but my
mind just can’t stop think about something that I dunno exactly is.
Iya, ketika aku menulis catatan ini, rasa letih dan kantuk
telah kalah telak dengan rasa gelisah. Cause for your information, there
is a thing that I always do before sleep, yang justru bikin aku ga bisa
tidur sekarang: ngereview hari.
Hufet deh.
Iya, jadi, aku punya kebiasaan ngereview hari gitu sebelum tidur. Itu tentang apa aja sih yang kiranya telah aku lakukan dengan benar pun sebaliknya hari
ini, atau tentang hikmah apa aja yang bisa disimpan seharian ini sebagai bekal
di esok hari yang misteri, hingga sampai di tahap meyakinkan diri atas hal-hal yang pantas
ditinggalkan pun pertahankan.
Hariku yang lalu, paginya dimulai dengan berita duka. Sebuah ketukan mendesak memaksaku
membuka pintu dengan cepat, iya, bahkan nyawaku rasa-rasanya belum terkumpul
semuanya.
Engsel pintu kutarik, sosok Ibu Kos berdiri di seberang keset.
“Bapak meninggal, Mbak.” Ucapnya cepat. Tak peduli aku
terlihat siap atau tidak untuk memahami pesan itu.
“Innalillahi wainnailaihirojiun.. siapa Bu yang meninggal?”
Aku meminta kalimat sebelumnya diperjelas.
“Bapak, Mbak. Bapak. Bapak meninggal!” Nadanya mulai
meninggi.
“Bapak yang mana, Bu? Bapak siapa?” sergahku. Sesekali kukucek mata ini.
“Bapak Kos ini, Mbak! Bapak Suratman!” Sosok wanita di
depanku ini rupanya mulai tak bisa tenang berdiri tegak, tubuhnya dicondongkan tepat di
depanku.
Aku mematung. Kemudian terduduk. Iya, patung yang satu ini
nyawanya belum utuh terkumpul.
“Saya titip kos seminggu ya, Mbak. Pintunya ditutup semua
tiap malam.” Tambah Ibu Kos cepat.
“….” Aku kehilangan kata.
“Yasudah, saya pamit dulu.” Kemudian beliau berlalu begitu
saja. Berbalik arah, turun tangga. Kudengar pintu utama terbuka. Lalu ada suara
motor yang semakin menjauh.
Dan. Aku. Masih. Mematung.
Bapak kos meninggal dunia? Ini beneran Pak Suratman yang meninggal dunia??
Eerr.. holy morning joking me
as hell.
Pintu kamar lain masih tertutup, padahal rasanya aku
sedang ingin mengajak seseorang berbicara. Iya, hanya untuk memastikan bahwa aku masih waras, atau sekadar ingin membagi dua kata saja dalam satu kalimat: bapak meninggal.
Maka aku membuka grup chat Kos
Mawar, kusampaikan berita duka tersebut. But
until 10 minutes gone, none read my message. So sad.
Hingga akhirnya mereka bangun satu per satu, anak kos mulai
heboh. Si Kume dan Laila pun langsung ke kamarku.
“Yaa Allah, Bapak meninggal kenapa, Fin?” Laila asked.
“Aku ndak tahu, ga sempat nanya sama ibu, kinda speechless”
“Duh, waktu bapak sakit sebelumnya kita belum sempat jenguk lho, Yaa
Allah gimana sekarang?” Yas, this Kume’s statement
makes me feels like…anak durhaka as
well.
“Kumpulkan duit sekarang, kabarin semua anak kos. Terus kita
ngelayat sebagai perwakilan”
“Oke, aku sama Kume ngumpulin duit dulu.” Laila langsung bergerak
nyari kardus. Mulai mengetuki pintu-pintu.
Lalu aku? Aku masuk ke kamar Ochi, rasanya kayak need
someone to talk to gitu.
“Ochi, tau tangga
besi biru depan kamarku ga? Itu biasanya dipake bapak merbaikin atap yang bocor lho..”
“Iya kah, Kak Fifin?"
“Ochi, sebelum sakit, bapak itu suka datang ke kos pagi-pagi
tiap weekend. Bersihin kamar mandi,
tempat wudhu, nyapu, sampai ngepel dari ujung ke ujung lho..”
“Oh gitu, Kak Fifin..”
“Ochi, bapak itu manggil aku Mbak Zulfin lho..”
“Hum.. gitu yaa, Kak Fifin..”
“Ochi, dari sekian banyak anak kos di kosan ini, yang pernah ke rumah bapak ternyata hanya aku. Hum.. kok cuman aku yang diajak yah waktu itu
sama ibu kos?”
"Hum..”
“Ochi, kalau ada something yang perlu disampaikan ke anak-anak
kos, bapak itu juga seringnya ngomong ke aku dulu gitu.. Bahkan ga hanya urusan kosan, nanya apa aja juga
sering, kemarin terakhir beliau ngebahas tentang anak semata wayangnya yang mau
kuliah, dia tanya baiknya di Jogja atau Solo aja kuliahnya. Aku bilang, kalau
mau sekalian jauh dan mandiri yaa di Solo juga bagus, jadi ga sering mudiknya juga. Eh beneran anaknya di
Solo sekarang..”
"Hum..”
“Ochi.”
“Iya, Kak Fifin.”
“Hari ini aku sudah janjian buat ngetutor sama mahasiswa dari jam 9
pagi sampai jam 3 siang nanti. Tapi aku mau tazkiah juga. Pingin ke rumah
bapak untuk melayat. Gimana yaa?”
“Hum..”
“….”
"...."
"...."
Kami saling mendiamkan.
Iya, rupa-rupanya aku hanya butuh pendengar di waktu-waktu seperti ini.
Tak lama setelah itu, berita kematian Pak Suratman diumumkan di masjid Nurul Huda depan Kos.
Mengenai janji ngetutor, kuputuskan untuk mereschedule jadi sore semua. Alhamdulillah mahasiswanya mau ngerti. Karena bapak kos sudah aku anggap layaknya keluarga sendiri, seorang bapak yang lain di tempat rantau. So, family come first. Jadilah kami berencana melayat ke rumah bapak di Kulon Progo sekitar pukul 11:00, ada 8 orang perwakilan dari Kos Mawar. Dan aku diharuskan berada pada barisan paling depan sebagai penunjuk jalan.
Sejujurnya, aku adalah orang yang pelupa. Banget. Iya, aku lupa rumah bapak di sebelah mana. Aku hanya ingat rumah beliau berada di sebelah kanan sepanjang jalan Kulon Progo jika berangkat dari Bantul, rumahnya di perempatan dekat lampu merah—yang entah lampu merah keberapa. Beruntungnya, ramai orang-orang yang melayat dan bendera putih depan rumahnya memudahkan kami untuk sampai di rumah duka.
Ramai dan asing. Orang-orang yang kukenal hanya Ibu Kos beserta anak-anaknya (aku pernah ke rumah ibu kos juga, dats why I knew them), lalu tentu saja anak semata wayang bapak. Matanya terlihat sembab. Dia berdiri di depan pintu, ada goyah dalam pandangannya. Dia berusaha menyambut, berusaha untuk tidak ‘roboh’ di waktu-waktu seperti ini. Gerik tubuhnya mengisyaratkan sejuta kebingungan, tentang mengapa rumah tetiba ramai, tentang peti mati yang dikalungkan bunga, tentang barisan jamaah yang sholat hanya 4 takbir saja, lalu kerumunan yang saling menyahut membaca yasiin dalam ruangan, pun tentang roti isi mentega dalam kotak yang tak satupun orang peduli betapa rasa manis di dalamnya mampu menjadi begitu pahit walau ditambah segelas air mineral yang bahkan tak bisa hilangkan dahaga duka.
Aku mendekatinya. Bersalaman. Berdekapan. Ada ungkapan lirih di antara kami, “Mbak, maafkan segala kesalahan bapak saya selama masih hidup ya..”
Oh my dear God.
Tahukah apa pikiran yang hilang timbul dalam tempurungku
setelah mendengar ungkapan itu?
Rasanya, seperti suatu hari nanti aku akan berada di posisi dia. Rasanya, akan tiba waktu untukku—walau entah kapan—untuk mengucapkan kalimat yang sama pada orang-orang secara berulang di suatu hari nanti.
Rasanya
seperti..ketakutan.
Padahal aku sudah lama tahu aturan ini: setiap jiwa yang
bernyawa, suatu hari nanti akan pergi.
Maka, begitulah takdir menjalankan waktu. Putri tunggal
bapak kos, sekarang sendirian di rumah. Bapaknya telah menyusul sang ibu yang
lebih dulu pergi. Memang, keluarga besar datang padanya di hari itu. Pun beberapa pesawat
dari kota seberang berdatangan. Dan dia tidak bisa terlepas dari aset-aset
kosan yang harus ia kelola untuk kedepan, tapi ah, tak usah pikirkan itu lebih
jauh dulu. Aku masih terbayang betapa ia berusaha mampu mengiringi peti jenazah
ke pemakaman.
Maka ia adalah jalan setapak yang lapang, memberikan ruang untuk
orang lewat menyeberang. Mendekat, masuk ke dalam ikhlas, minta dilepaskan.
Tak lama kami di rumah bapak. Usai berdoa bersama dan
bertukar cerita tentang almarhum, kami memutuskan pulang ke kosan. Yaa walau tidak benar-benar
pulang untukku, karena mahasiswa sudah menunggu di kampus. Maka barisan
terpencar, beberapa kembali ke kos, sedang aku melaju ke kampus.
Maka benar adanya jika energi fisik dan pikiran terkuras, rasanya begitu lemas. Parahnya, hal itu juga mampu hilangkan rasa lapar. Dan ya, mungkin mulutku masih bisa menjelaskan apa itu paradigma meaning based theory pun ketika ditanya transmissional view pun masih bisa lancar menjelaskan. Ada waktu dimana aku bahkan mencoba untuk melucu, hanya agar diskusi yang sempat tertunda itu tidak menjadi jemu. Ah, sempat pula membalas pesan-pesan yang masuk dengan perasaan entah-campur-aduk-tidak-karuan-rasanya. Pun masih bisa menerima tamu di malam hari dan membahas beberapa hal, lalu sebagai pendengar cerita-cerita picisan teman sembari makan hingga (mungkin) kenyang, dan berujung kedatangan teman yang bermalam dalam kamar.
Secara empiris, semuanya tetap berjalan seperti biasa. Pengulangan atas rutinitas yang begitu-begitu saja. Pernah terjadi, lagi, lagi, dan berulang lagi. Tapi, yang berbeda malam ini, ada kejanggalan yang tak bisa dibawa tidur. Ada ingatan-ingatan yang berputar dalam tempurung ini. Sesuatu yang harus dijabarkan dalam wujud barisan huruf. Susuatu yang padahal tidak indah, tapi rasanya juga ingin terus diingat.
Apa aku sudah melakukan hal yang benar?
Atau tepatnya, apa aku sudah pantas disebut manusia yang mampu memutuskan melakukan hal yang tidak salah?
Jika aku benar, mengapa aku merasa bersalah?
Apa aku belajar sesuatu?
Atau tepatnya, apa aku sudah pantas disebut berilmu ketika
masih goyah menempatkan ingin dan ragu?
Jika aku belajar, mengapa aku merasa bodoh?
Ada penyesalan-penyesalan bisu yang bermunculan hari ini. Sedari
pagi, hingga pagi. Semacam ego yang bertumpuk atas ingin untuk berjuang
sendirian saja. Tentang janji pada diri sendiri yang tak bisa dilunasi
hukumannya, tersebab melanggar rasa nyaman pun bertindak semena-mena. Tentang kekhawatiran atas
kemampuan diri sendiri, apakah siap atas waktu yang selalu menjadi rahasia? Atau
sudahkan cukup bekal untuk bertahan kelak? Bahkan rasanya tak pantas bertanya,
apakah bohong bagian dari rasa takut agar terlihat tegar?
Aku memang tidak cocok dengan kehilangan. Pikiran dan jiwaku sudah saling melepaskan. Berita kematian selalu membuatku tak henti memikirkan banyak hal. Apakah aku harus takut atau seharusnya iri? Karena nyatanya, kepergian seseorang tidak selalu menjadi kisah akhir, tapi justru langkah yang baru, walau dalam kesendirian. Iya, selalu ada yang merasa sendirian ketika kepergian menjadi abadi. Ramai tak pernah benar-benar nyata. Rindu tak pernah benar-benar sampai.
Maka, rasa apa saja yang harus dirasakan untuk menjadi
benar-benar hidup? Sudah pantaskah kita menjadi alasan seseorang bahagia atau
menangis?
..I will know it all well, one day.
Kamar no.15A
Kos Putri Mawar
Zulfin Hariani
190220170501

Komentar
Posting Komentar