Aku tidak ingin engkau menghilang dari ingatanku.
Semakin hari, aku semakin takut engkau benar-benar pergi,
seperti ragamu yang tak lagi bisa kutemukan hangatnya.
Semakin hari, aku semakin takut melupa, bahwa aku pernah
memiliki seseorang yang begitu berharga. Walau ada namamu di tiap doa yang kutitipkan pada Tuhan
kita, tetap saja aku takut kau benar-benar pergi dari ingatan ini. Jika benar
jarak terjauh dengan seseorang adalah ketika dilupakan, maka aku mungkin benar-benar
bodoh jika sampai sejauh itu darimu.
Kau nyata. Kau pernah ada. Kau pernah hidup. Aku bisa
merekam senyummu. Aku ingat tiap kerut di pipimu. Aku masih dapat mendengar
suaramu menyebut nama belakangku. Aku masih hafal aroma tubuhmu. Tiap gerak
tubuhmu, ayunan tangan dan kaki, mata yang tertutup ketika bersin, merahnya hidung
tersumbat ketika pilek, telinga yang juga menjadi memerah ketika terus-menerus
kau garuki, lalu mulut yang mengunyah ketika kita makan bersama, pipi yang tertarik ketika engkau tertawa.
Rambut yang mengibas ketika kau menoleh cepat. Aku masih ingat itu semua.
Aku ingat tiap inchi dirimu. Cincin di jari manis yang
kuberikan, pinggangmu yang pegal ketika duduk terlalu lama mengupas
melinjo depan teras sembari kita bertukar cerita. Aku ingat warna-warna dastermu.
Aku ingat aroma semir rambutmu. Aku ingat sandal bakiakmu. Yas, I still remember it all, too well.
Tapi, mengapa aku masih selalu takut melupa?
Kau tahu betapa aku tak bisa berdusta atas rindu. Sehebat
apapun aku coba, ternyata aku tetap tidak bisa untuk tidak pulang ke ruang
rindu untukmu. Aku belum pernah menemukan alasan yang lebih hebat untuk
bisa menyayangi seseorang sehebat aku menyayangimu. Bahkan jika engkau melupakan
aku. Bahkan jika engkau meninggalkan aku. Bahkan ketika aku sadar dunia kita sudah
berbeda.
Aku belum pernah menemukan alasan pada orang lain yang mampu
menguatkanku untuk melindunginya semampuku. Tak gentar walau aku tahu aku
lemah. Yang aku tahu kau pantas dilindungi.
Engkau adalah seseorang yang bahkan hanya dengan diam dapat
mengajarkanku banyak hal. Kau menjagaku dalam
bisu, dan aku bisa rasakan itu. Padahal kau juga tahu, sejauh apapun kaki liarku ini
bersikeras melangkah, satu kata darimu cukup membuatku untuk pulang. Tapi kau memilih
membisu. Aku tidak tahu bagaimana caranya kau memendam banyak rindu
seperti ini atasku dulu. Aku tidak pernah tahu. Seberapa banyak tetes air yang
tumpah berulang kali dari matamu. Maafkan aku tidak di sana.
Lihatlah bagaimana duniaku sekarang berputar tanpa jiwamu
dalam gravitasinya. Lihat, aku tidak seimbang.
But, show must go on,
right?
Tuhan menjemputmu artinya aku sudah dipercayakan mampu atas
diriku, kan? Pasti begitu.
Selamat beristirahat dengan tenang, Wanita Mengagumkan.
Hariani
20.06.2016-05.04.2017

Innalillahi wa'inalillahi rojiun, Turun berduka ya fin.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapusdemi apa 2x typo terus ke publish, turut -_-
HapusYaelah, Mas. muehehe
Hapus