Beberapa waktu yang lalu, seorang teman masa kecil
menghubungiku. Bertanya tentang ‘hal konyol’ yang pernah menjadi lelucon kita
di masa lampau. Ia percaya bahwa aku masih mengingat hal itu, karena memang
benar hanya kami berdualah yang paham, pun sanggup
dibuat terbahak tak henti walau orang lain tak akan pernah mengerti. Bahkan sampai
sekarang.
Ia menanyakan memori yang terlewat selama… hum, kira-kira 16
tahun silam. Surprisingly, I’m still
remember it. And the good news is, we both still laugh so loud when
talked about it, again.
Banyak hal yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan ini.
See? Setelah 4 bulan tidak mengupdate note di blog ini, rasanya memang aku menjadi agak pengecut untuk
bercerita. Jika ditanya apakah ada yang ingin aku ceritakan sekarang, jawabannya
tentu ADA, bahkan S A N G A T B A N Y A K.
But I dunno why, my fingers just suddenly stop
typing every single time that I used to. I have done my skripsi, done the pendadaran, done the wisudaan too. So many thing that I want to share. But, I just afraid to realize the
atmosphere. I mean, after all of those stuffs—especially my graduate moment,
its feels like I’ve done to be stay, here, longer. I hate sad feeling. I hate
realizing all about it.
Then, pesan
singkat dari teman kecilku itu nyatanya menumbuhkan benih keberanian untuk
menulis malam ini, setelah kubaca berulang, rasanya ingin sekali menggerakkan
jari-jari ini untuk menekan tuts keyboard bergantian. Karena aku menyadari,
memang akan ada masanya, entah 16 tahun
kedepan lagi—atau lebih. Orang-orang yang ada bersamaku sekarang akan
mengirimkan pesan serupa. Mungkin bertanya nama suatu café, menanyakan nama
seseorang, menanyakan apapun yang membuat dia yakin bahwa aku pasti ingat
karena kita pernah mengalaminya bersama. Atau mungkin sebaliknya, 16 tahun
mendatang aku akan terjebak dalam situasi yang mengingatkanku pada masa ini. Kemudian
menghubungi mereka yang kupikir memiliki memori yang kuat mengenai hal itu.
Walau seringnya, aku yang pelupa. Eh tapi untuk beberapa
hal, bisa kupastikan ingatan ini bisa merekam dengan begitu detail. Bahkan aroma
parfummu, kerut-kerut yang dibuat pipi dan keningmu, cara kamu menyingsingkan
lengan baju, cara kamu makan-minum-berjalan-menoleh, suaramu ketika berbisik
atau berteriak, otak kecil ini bisa mengingatnya. Percayalah.
Teman masa kecilku seolah membantu menemukan kunci dari
pintu labirin-labirin di otak ini. Yang bahkan hanya dengan mengingatnya, aku
bisa kembali merasakan emotional feeling pada 16 tahun silam. Itu tentang
bagaimana kami memiliki ‘istilah khusus’ dalam menyebut nama seseorang jika di
tempat umum, apa saja tindakan-tindakannya yang menyebalkan—yang bahkan pada
kasus ini dia lebih mengingat hal yang terjadi padaku ketimbang diriku sendiri. Lol.
Lambat laun, aku semakin menyadari. Kalau setiap orang memang pasti memiliki ‘kisahnya
sendiri’. Tentang apa-apa yang pernah dia lalui di masa silam, entah bersama
siapa. Tak semua harus dimengerti oleh banyak orang, tak semua harus
diceritakan. Memori-memori itu berharga. Mereka bisa menghadirkan kembali emosi
yang pernah ada. Betapa kita bisa mengingat rasa suka dan benci terhadap suatu hal.
Mengenai benci, ada beberapa hal yang tidak kusukai (namun tetap) terjadi
dan harus kulewati. Dulu, aku bisa begitu membenci. Namun, lagi-lagi, semakin
melewati beberapa fase, aku menyadari beberapa hal. Bahwa aku tidak seharusnya
membenci terlalu lama. Benci adalah suatu wujud kekejaman. Katakan saja benci terhadap seseorang, ah, bagaimana
bisa aku melakukan hal itu pada seseorang yang benar-benar ada? I mean, dia hidup. Punya rutinitas, mampu berpikir, punya perasaan, punya orang-orang
terdekat, bisa berputus asa bahkan bisa tersiksa dengan pikirannya sendiri. I just can’t imagin’ how people can hates
someone that so REAL. You can touch
their skin, call their number then hear their voice. You can sent them messages, so they will use their
little fingers typing words to reply you. Jadi singkatnya, aku membayangkan
diriku dibenci oleh seorang manusia yang juga adalah aku. Bagaimana mungkin aku
mampu membenci diriku sendiri? Yang padahal, aku juga hidup, jika diminta untuk
bertemu maka kita bertemu. Bertatap muka, berbicara, berinteraksi. Bagaimana mungkin
aku membenci manusia yang padahal juga seperti aku?
Okebaiklah, ini mulai terdengar sulit dimengerti. Lol.
Dan, pada akhirnya, hidup tetap harus berjalan. Ada orang-orang
yang datang, pergi, mampir, berkunjung kembali, dan menetap sampai nanti. Ada orang-orang
yang memiliki ikatan dengan kita walau jarak terbentang beradius-radius
jauhnya. Ada orang-orang yang merasa beruntung mengenal kita, pun sebaliknya karena
menyesal telah mengambil langkah yang kurang tepat dalam berinteraksi di lingkar kita. Tak semua orang akan menjadi sama selamanya, mereka akan tumbuh dan
berkembang, pun semakin menjadi diri mereka sendiri.
Tidak ada yang benar-benar pergi dari kita, hingga akhirnya
kita memilih untuk saling melupa. Pun tidak ada yang benar-benar datang dan
menetap pada diri kita, hingga akhirnya benar-benar kita persilakan dan mau
untuk saling memperjuangkan.
Oh well, sekarang sudah memasuki awal bulan terakhir di penghujung tahun 2017. I can see my next step there, wish me luck!
Good night, embun
pertama Desember.
Yogyakarta,
Zulfin Hariani
011220170349
011220170349


Komentar
Posting Komentar