Nyatanya, beberapa pertemuan harus terjadi berulang kali agar membuatmu paham. Bahwa
untuk mengikhlaskan perpisahan, yang kau butuhkan hanya rasa paham.
***
Pernahkah terpikir? Bahwa hidup seorang anak manusia
layaknya tempat-tempat untuk transit
saja. Seperti pelabuhannya kapal-kapal, stasiun deretan kereta api, bandara
burung-burung besi, pun terminal bus-bus berAC dingin. Tempat transit menghadapkanmu dengan keadaan
bahwa akan selalu ada orang-orang baru yang datang, kemudian pergi. Beragam manusia,
berjuta karakter. Beberapa di antara mereka begitu baik dan menyenangkan. Pun beberapa
lainnya bisa saja tak cocok denganmu, walau begitu tetap saja kalian
harus bertemu, karena hidup tak melulu
tentang rasa yang satu.
Selang waktu berjalan, akan ada orang-orang yang datang di
tempat transit yang sama. Menjadikanmu
dan dia kerap bertemu, walau tak lama. Di antara mereka, ada yang
datang dan—katanya—ingin menemanimu dalam jangka waktu yang tak sebentar, ia memohon izin berdiam di tempat transitmu. Karena ia lelah, telah singgah di
banyak tempat sebelum menemukan tempatmu sebagai titik untuk menghabiskan
waktu. Ya, walau sejak awal kamu
telah mengetahui bahwa ia—tetap saja—akan sekadar singgah, namun kamu akan
tetap mengizinkannya, ‘kan? Selalu begitu.
Berulang kali begitu. Hingga akhirnya kamu tersadar, bahwa ternyata tidak pernah benar-benar paham arti ikhlas dalam
perpisahan. Tak seharusnya bersedih terlampau lama. Sungguh, tak seharusnya.
Karena sebelumnya, kamu pun pernah melewati beberapa tempat
persinggahan lainnya. Yang membuatmu merasa nyaman, buatmu merasa berada di tempat yang tepat, buatmu merasa sudah
waktunya menghentikan tualang. Rasanya seperti.. kamu hanya ingin
menetap selamanya. Tapi ternyata, hidup seorang anak manusia layaknya
tempat-tempat untuk transit saja. Maka
tetap saja, jika bukan kamu yang pergi lebih dahulu, maka dialah yang akan
melakukannya. Terlepas dari seberapa besar kalian pernah merasa ingin bersama
seterusnya. That’s the rules.
Padahal, diri kami bukanlah
milik kami sendiri..
Begitu kata mereka. Tidak pernah ada sesuatu yang
benar-benar kita miliki di dunia ini. Dan lagi, toh hidup masih berjalan. Kita tidak
pernah tahu memori apa yang paling
kekal di ingatan hingga menua. Entah di mana, seberapa lama, bersama siapa, dan
bisa menjadi yang terakhir didamba kehadirannya ketika waktu menutup
tempat transit telah tiba. Pada akhirnya
kita akan tersadar, dari sekian panjang perjalanan yang pernah terselesaikan—atau
bahkan yang tidak pernah bisa diusaikan—bahwa, jika bukan orang lain yang
hendak transit di tempatmu, maka kamulah
yang akan sekadar transit di tempat
orang lain. Mungkin hari ini, seseorang tengah datang ke tempat transitmu. Bisa jadi dia orang yang
kerap berulang singgah dulu dan selalu menemukanmu untuk kembali. Bisa jadi kamu
dan dia telah melewati banyak kisah dan bertukar cerita tentang tempat-tempat
persinggahan masing-masing. Lalu kalian menjadi terlalu terbiasa bersama. Kalian tidak
pernah berpikir tentang tempat transit yang lain, petualangan perlahan berganti menjadi tujuan tempat pulang.
Kilisuci
Zulfin Hariani
1401181705

Komentar
Posting Komentar