Ada beberapa memori yang disimpan otak kecil ini. Memori
yang kadang membuat senang untuk dikenang, pun sebaliknya. Memori yang kadang
ingin terus dikenang, pun sebaliknya.
Bapak adalah sosok yang dahulunya tak pernah bisa
kumengerti. Terlampau abstrak sekaligus misterius. Hal itu mengenai mengapa ia
tak pernah bersedih, mengapa ia tak pernah memaksa, mengapa ia tak pernah
memukul, dan masih banyak mengapa lainnya. Dulu, aku bertanya-tanya, mengapa
bapakku berbeda dengan bapak teman-teman yang lain. Bapak teman-temanku selalu
melarang anaknya bermain terlalu jauh dari rumah, melarang memainkan handphone dan computer, melarang mengendarai motor, dan masih banyak melarang
lainnya. Sedang bapakku tidak. Aku disuruh bermain yang jauh, lalu diberikan handphone dan motor agar mudah dihubungi
katanya.
Bapak sangat menyayangi mama. Pernah mama memasak begitu
asin—sehingga aku dan adik-adik tak menghabiskan makan malam, namun bapak tetap
melahap sampai habis. Pernah mama sakit dan kami belum makan, maka bapak
memasak nasi goreng andalannya. Tapi beneran, itu nasigoreng bapak enak banget
sih. Terbaik! Dan barulah kuketahui, dulu di masa mudanya bapak pernah
berjualan nasi goreng. Pernah pula mama mengomel seharian, mengeluarkan
kata-kata yang-jika-aku-mengerti-pada-masa-itu, mungkin aku akan memilih untuk
marah-marah dan mengomel juga. Tapi
bapak? Ia tetap memilih diam. Kata beliau, “kasihan mama sudah capai di rumah,
kita sudah tidak pakai bibi lagi
soalnya”. Bibi yang dimaksud bukanlah bibi saudara berdasarkan ikatan darah.
Tapi seorang asing yang membantu untuk membersihkan dan memasak di rumah. Bapak
tetap menemani mama, ketika ia berbelanja begitu lama, mengantar ke
seminar-seminar kecantikan, bahkan tetap ada walau hanya untuk mendengarkan
cerita mimpi apa mama semalam. Jadi,
aku paham jika akhirnya bapak menerima tawaran untuk ditempatkan di luar kota,
ia telah mempertimbangkan banyak hal pun mengorbankan hal-hal yang selama ini
berusaha ia jaga.
Ada tiga makhluk kecil, tanggungjawab titipan Allah pada mama
dan bapak yang harus diantarkan sampai gerbang masa depan kelak. Tanggung jawab
yang bukan mainan. Bapak pikir, konsekuensi meminta mama untuk tidak bekerja
dan diam di rumah saja mengharuskan dia untuk mengemban pilihan tersebut. Bertanggungjawab
penuh. Pilihan yang cukup berat, karena harus berjarak dengan wanita yang ia
sayangi. Namun anak-anak adalah prioritas yang mereka sepakati untuk dijamin
hidupnya. Maka mau tak mau, suka tak suka, toh ini hanyalah jarak antara
Mataram dan Selong saja.
Bapak tidak pernah menangis. Tak pernah mengucap capai
dimulutnya, dia masih selalu mengajak bercanda. Walau tiap pukul sebelas malam ketika
ia pulang, kami anak-anaknya telah kehabisan energi untuk sekadar bercanda
bersama beliau. Namun kami paham, menjadi seorang bapak tidak pernah benar-benar
mudah. Bahkan ketika ia mulai membuat kami sebal karena lupa membelikan mainan,
kami mulai memahami pelan-pelan. Bahwa untuk menjadi baik-baik saja adalah
sebuah prestasi bersama. Selagi kumpul bersama, jangan sampai saling menyakiti.
Namun hari itu, air mata bapak terjatuh juga. Bukan, bukan
karena ia menjadi lemah dan lelah, tapi karena bapak juga adalah manusia. Bapak
pantas bersedih ketika ia merasa kehilangan. Dan memori inilah yang selalu
tersimpan erat di ingatanku. Walau tidak menyenangkan, walau tidak ingin
terus-terusan dikenang. Bapak menangis ketika papuk mame (kakek dalam bahasa sasak) meninggal dunia.
Aku tidak pernah tahu memori apa yang bapak miliki bersama
papuk semasa hidupnya. Yang pasti, setiap orang memiliki memori masa kecil
layaknya yang kumiliki bersama bapak, pun bapak miliki bersama papuk. Hidup
tidak selalu mudah, banyak susahnya. Hidup tidak melulu bersuka, ada juga
dukanya. Mungkin, saat itu adalah memori berduka bapak dengan papuk yang paling
melukakan. Sehingga bapak terlihat basah pipinya, seharian.
Papuk wafat karena paru-paru beliau sudah tidak kuat lagi
menampung asap rokok. Kata dokter, paru-parunya bocor, rusak, jadikan tiap hela
napasnya selayak siksaan. Papuk adalah perokok aktif sejak lama. Selalu merokok
di segala situasi. Sedang istrinya, papuk
nine (nenek dalam bahasa sasak), juga mulai terkena gangguan pernapasan.
Yang kemudian tak lama setelah itu wafat juga, menyusul papuk mame.
Bapak lagi-lagi mengusap pipinya yang basah.
Betapa setelah hari-hari itu, aku amat membenci rokok dan
segala varian asapnya. Aku marah mengapa baloq
(buyut dalam bahasa sasak) tidak melarang papuk mame ketika merokok saja. Aku
marah karena papuk nine—yang bahkan tidak pernah merokok, juga tidak bisa
berdamai dengan benda laknat itu hingga ia pun meninggalkan dunia dengan
diagnosis yang sama. Aku marah mengapa tak satu pun orang di sekitar mereka
mematikan saja puntung rokok papuk dan baloq ketika menyala. Aku marah karena
hal seperti itu menjadikan alasan kematian—yang menurutku bisa sejak awal
dicegah saja. Aku marah melihat bapak menangis ketika papuk wafat. Aku lebih
marah sejadi-jadinya ketika menyadari bapakku sendiri juga adalah seorang
perokok aktif. Sejak lama.
Pada malam kematian papuk saat itu, aku merenung
habis-habisan. Tak terbayangkan jika hal itu berulang dalam keluarga kecil
tempat kami bersandar selama ini. Kusampaikan pada bapak bahwa ia sebaiknya
berhenti merokok saja. Beliau katakan sungguh ingin berhenti namun tidak bisa
semudah itu. Bayang-bayang papuk mame wafat disusul papuk nine tersebab hal
yang serupa, semakin menghantuiku. Mereka terlihat begitu kesakitan dan
menderita. Keluarga yang ditinggalkan pun tidak tahu harus berbuat apa karena
musababnya telah tertabung sejak lama. Bagaimana mungkin aku bisa menghadapi
hal serupa pada orang yang begitu aku sayangi? Sedang aku tak sekuat bapak,
sedang bapak yang kuat saja bisa roboh ketika ditinggalkan, bagaimana kelak
aku?
Maka bapak mengikuti meditasi beberapa bulan di Bali demi
berhenti merokok. Harapan masih ada, pikir kami. Walau harap itu menjadi sirna
lagi ketika beberapa bulan pasca meditasi, bapak kembali merokok seperti sedia
kala. Huft.
Hingga kini, bapak masih merokok. Namun sepertinya selalu
merasa gusar karena mendapat banyak perlawanan dari istri dan anak-anaknya.
Bapak tidak pernah merokok di dekat kami, tidak pernah meminta tolong dibelikan
rokok ke warung lagi. Setiap ucapan ulang tahun yang ia terima, berulang-ulang
tentang pinta dan doa berhenti merokok. Setiap diskusi mengenai kesehatan,
selalu berujung dengan membahas bahaya rokok. Setiap ada bahasan mengenai informasi
dan tips berhenti dari merokok, selalu kami bagikan ke beliau. Walau sepertinya
tidak teramat mudah, aku pribadi tidak akan berhenti. Aku tidak ingin generasi
setelahku menaruh kesal yang sama seperti yang pernah aku alami dan renungkan
di kemudian hari nanti. Aku tidak ingin mereka merasakan sedihku juga, bahkan
berkali-kali lipat berat seperti yang pernah bapak rasakan dulu. Setidaknya aku
sudah berusaha.
Hari ini, sebuah berita kematian diumumkan di masjid depan
rumah. Seorang tetangga yang sebelah rumahnya tempat kami biasa membeli buah
rambutan kiloan—dan bisa petik sendiri, istrinya telah berpulang ke rahmatullah. Beliau adalah teman dasa wisma mama. Terakhir mama ceritakan
bahwa beliau tidak datang di agenda rutin lagi tersebab sakit, tervonis kanker
paru-paru stadium 4. Mama turut prihatin, kabarnya almarhummah menderita
penyakit tersebut karena sebagai perokok pasif. Ironinya, suami beliau tidaklah
merokok. Banyak yang menduga mungkin di lingkungan kerja, mungkin di lapangan
tempat ia bertemu kerabat, dan entah bagaimana hanya Allah yang tahu.
Mama terlihat begitu sedih. Ia lama sekali di rumah duka,
membantu memasak, memandikan, hingga mendengarkan keluh-kesah keluarga. Di
rumah, mama menjadi lama sekali berdoa setelah menunaikan sholat. Entah doa apa
yang beliau rapalkan, tapi air muka khawatir dan sedih tidak bisa ia
sembunyikan.
Beberapa orang di luar sana mungkin menganggap ini adalah
hal yang biasa saja terjadi. Sepele. Sangat wajar dan sudah tak asing lagi.
Tapi pernahkah terpikir jika hal serupa dialami dalam keluarga kecil sendiri?
Pernahkah terbesit rasa ingin memutus mata rantai dimulai dengan hal-hal dan
kemungkinan yang kecil? Pernahkah?
Jika saja air mata bapak tak jatuh hari itu, mungkin aku
tidak pernah sampai pada titik pikir ini. Tidak pernah begitu peduli dengan mereka,
terutama orang-orang baik pun memberikan pengaruh dalam jejak hidupku ini. Maka,
terimakasih Tuhan telah menciptakan air mata. Walau kadang ia berarti suka,
namun jika karena duka ia bisa mengajarkan sesuatu yang berharga, tak apa.
Biarkan aku memaknainya walau harus jatuh dari pelupuk seorang bapak yang
berjasa.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Selong,
..dari seorang gadis yang kelak adat sorong-serahnya
tak menyajikan rokok pada undangan
Zulfin Hariani
240720181230
240720181230

Komentar
Posting Komentar