Langsung ke konten utama

Ketika Mereka Tertidur


Dua pasang katup mata tertutup di sebelahku. Garis wajah mereka persis, bak pinang dibelah dua. Melihat wajah polos tak berdosa mereka saat terlelap, membawa pikiran ini melalangbuana.


Tidak sekarang, namun beberapa puluh tahun kedepan nanti, akan seperti apa kita? Membayangkan anakku kelak memiliki kehidupannya sendiri, logika pikir, kesukaan, dan ambisi atas mimpi, rasanya-apa-tidak-terlalu-cepat waktu membawa kami berlari?


Apa dia bisa mengandalkan dirinya sendiri? Menjadi mandiri, menyelesaikan urusannya sendiri. Bisakah ia bertahan atas kerasnya dunia? Bersaing & bertahan hidup sebaik-baiknya? Bagaimana jika ia terluka? Merasa berdosa, dikhianati percayanya, merasa lapar & dahaga? Apa akan ada aku disana, menemani titik-titik terendah dalam hidupnya? Pun bertepuk tangan ketika ia berhasil mencapai inginnya?


Oh, suatu hari nanti mungkin dia tidak membutuhkan aku layaknya hari ini. Tidak bergantung & haruskan apa-apa denganku lagi. Kelak ia akan mengambil keputusannya sendiri atas pertimbangan pribadi. Dia akan memiliki keluarga kecilnya sendiri. Menjadi berani, percaya diri, menjalani hidup baik-baik saja. Dan ketika hari-hari itu tiba, ku rasa aku tak akan apa-apa, asalkan dia berbahagia. Itu sudah cukup.


Melihat lelap suamiku, terbesit berapa peluh yang ia usap sendiri di balik punggungku. Mengayuh kakinya yang pegal berdiri, demi mengumpulkan pundi-pundi rizeki untuk kami. Pasti tidak mudah baginya, mengendalikan pikir antara ruang kerja & rumah. Mungkin ia sering merasa lelah, tapi ia tak pernah mengeluh terlebih goyah.


Melihat suamiku terpejam, membuat sibakan memori terdahulu muncul lagi di permukaan. Ini kah orang yang sama mengajakku makan malam di rumahnya waktu dulu? Menjemput & mengantar, bercerita tentang apa saja yang dia pikirkan, tanpa tau aku mengerti atau tidak? 


Ternyata dia orang yang digariskan Tuhan untuk membersamai hari-hariku di depan. Kadang terpikir walau kita seumuran, sepertinya Tuhan berikan dia bonus tanggungjawab yang jauh lebih besar. Belum tentu aku sanggup & menjalani sebaik dia jika kita bertukar peran. Jadi, bisakah aku memudahkan hisabnya kelak? Jika nanti dia dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya atas aku & Maryam, tidakkan itu menyulitkannya jika aku tak pandai bersyukur? Pertanyaan mengenai didikan agamanya pada kami, cara dia mencari rizeki, bagaimana kami atas kecukupan materi, merasa lapar, rasa nyaman, aman, dikasihi.. sungguh berat hisab seorang pemimpin. 


Beginikah rasanya jadi seorang ibu dan istri yang overthinking? Haha. Semakin dipikir, semakin alam pikir membawaku pergi ke belakang. Oh mungkin, ini juga yang dialami dulu oleh mama mertua suamiku & mertuaku. Singkatnya, mama kami masing-masing. Hehe. Bisa jadi dulu sewaktu kami tertidur di dekatnya, rasa khawatir mereka atas kami di hari ini membuat mereka juga susah tertidur. Sudah lama sekali, saat-saat dulu masalah terbesar hidup kami seputar susah makan karena tumbuh gigi, malas mandi, tidak mau tidur siang, dan melempar-lempar makanan. Mereka menyicil doa-doa baik untuk hidup kami hari ini. Berharap bisa bersama selamanya, memastikan buah hatinya merasa bahagia.


Pada akhirnya, hanya mata bisa terpejam. Namun pikiran sudah traveling ke mana-mana. Wkwk. Oh, atau aku yang masih terlalu percaya diri tentang waktu? Karena kita tidak pernah tahu sampai kapan jatah hidup di dunia yang fana ini kan? Entah siapa yang lebih dulu berpulang. Hingga waktu itu tiba, semoga segala kebaikan di jalan Ilahi selalu menyertai. Aamiin.

Komentar